ADA APA DENGAN KORUPSI??

Islam telah meletakkan berbagai macam terapi mendasar untuk menyelesaikan problematika ekonomi yang dialami masyarakat. Di antara prinsip ekonomi terpenting dalam Islam adalah menerapkan pada setiap insan Muslim teori pertanyaan: “Dari manakah engkau dapatkan harta ini?

Nabi Muhammad SAW pernah mengutus seorang pemuda untuk mengumpulkan zakat. Setelah zakat terkumpul, pemuda ini membawa hasilnya kepada Nabi. Saat menyerahkannya dia mengatakan kepada Nabi, “yang ini (dengan menunjukkan sejumlah uang) bukan hasil zakat. Uang ini hadiah dari seorang pembayar zakat yang ia berikan kepadaku.” Nabi menjawab, “ Hai anak muda, seandainya kamu tidak saya tugaskan mengumpulkan zakat, apakah kamu akan mendapatkan hadiah itu? “ Si pemuda menjawab dengan suara lemah, “Tidak wahai Nabi.” Sabda Nabi: “Berarti kamu mendapatkan hadiah karena jabatanmu. Karena itu hadiah ini bkan milikmu tapi tetap milik negara.”

Hadis di atas merupakan ilustrasi tentang sikap Islam yang sangat tegas terhadap praktik-praktik suap, sogok, dan korupsi. Dalam sejarah Islam, banyak negara jatuh karena pimpinannya korup. Baghdad, misalnya, jatuh pada abad 13. Kota pusat peradaban ini dihancurkan oleh Hulagu Khan. Allah telah mensinyalir kejadian semacam itu bila para pemimpin suatu negara fasiq. Kekayaan hanya menumpuk di negara sementara rakyat dibiarkan hidup melarat. Rakyat pun harus tunduk pada pimpinan dan bukan pada hukum.

Dalam buku Beyond Belief karya sosiolog modern Robert N Bella disebutkan nasionalisme pertama ialah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW kemudian diteruskan oleh Khulafa’ Rasyidun. Nasionalisme tidaklah diartikan tribalisme “kesukuan”, tapi dimaknai nation state, yaitu sebuah negara yang didirikan untuk seluruh bangsa dan masyarakat menuju kemaslahatan bersama. Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, semua kekayaan negara milik raja. Contohnya, ketika Inggris masih bercorak monarki absolut, para pelaut Inggris yang melalang buana ke pulau-pulau yang dianggap tak berpenghuni menancapkan bendera bahwawilayah ini milik raja Inggris, bukan milik rakyat Inggris. Sebelumnya sudah terjadi pada masa Daud dan Sulaiman AS. Dalam skala yang lebih besar konsep itu diubah oleh Rasulullah SAW dengan nama lain kota Madinah yaitu al-Dairah al-Ma’murah, wilayah berperadaban. Yakni wilayah yang berkembang dari lautan Atlantik sampai tembok Cina.

Maka dari itu keabsahan seorang pemimpin dapat dilihat dari sejauh mana dia memperhatikan kepentingan umum. Karena kekayaan negara itu milik rakyat, seorang pemimpin harus bisa membedakan antara kekayaan pribadi dan kepentingan umum. Masihkah kita ingat cerita seorang tamu yang menghadap Umar bin Abdul Aziz pada malam hari? Ingatlah apa yang beliau lakukan pada tamu ini. Dalam versi ceritanya, memang ada 2 lampu yang digunakan saat itu, lampu besar dan kecil. Ketika dikabari oleh penjaga istana bahwa tamu tersebut datang untuk kepentingan pribadi, Khalifah lantas memadamkan lampu besar. Ketika ditanya, “kok dimatikan?, lantas beliau menjawab “Anda datang kesini bukankah untuk keperluan pribadi. Maka lampu besar itu saya matikan karena minyaknya memakai uang rakyat. Sudahlah, lampu kecil ini saja sudah cukup, karena minyaknya memakai uang pribadi saya sendiri.”

Korupsi yang dimulai dari proses menyogok memeang tidak ada ayat pelarangannya dalam al-Qur’an. Praktiknya tertutup dan gelap. Tak jelas siapa yang untung dan rugikecuali orang yang jeli menangkap gelagat operasinya. Reaksi pun kadangkala timbul setelah melihat implikasi korupsi itu. Rasulullah bersabda “ Laknat atau kutukan Allah bagi orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantaranya.” Mengapa Allah melaknat? Karena memang merugikan orang banyak yaitu rakyat. Korupsi bisa menimbulkan kerusakan sistem, terutama sistem amanah. Orang tak lagi percaya pada amanah. Yang terjadi kemudian saling menaruh curiga dan tidak percaya pada hukum. Saat ini memang banyak sinyalemen mengenai runtuhnya sistem kita. Hal tersebut tampak dari predikat bangsa ini mengenai korupsi yang begitu buruk dan sangat buruk. Tetapi predikat apapun yang dibuat untuk bangsa Indonesia karena korupsinya yang sedemikian rupa, di mata Allah tetap saja Dia mengklaimnya dengan “laknat” tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s