BELAJAR FILSAFAT

Apa itu filsafat ?

Belajar filsafat pada dasarnya adalah sebuah proses mempelajari aktifitas pikir manusia, bahkan filsafat adalah aktivitas itu sendiri. Dalam banyak hal, aktivitas pikir itu memang mengalir begitu saja, berkembang seiring berkembangnya usia manusia, meningkat seiring meningkatnya pengetahuan dan pengalaman manusia. Dengan proses ini, tidak sedikit yang kemudian menemukan kearifan hidup. Disini, filsafat dalam pengertian sebagai disiplin ilmu tidak punya peran, atau yang demikian ini sering disebut sebagai filsafat qadratiyah yaitu suatu pola pikir yang terbentuk secara alamiah, tidak melalui belajar.

Namun dalam banyak hal juga manusia perlu kreativitas, langkah maju dan program strategis dalam mengelola hidup. Maka pemikiran yang hanya berkembang secara alamiah dirasa tidak cukup, sehingga mereka melakukan langkah akselerasi dengan mempelajari sejarah, mendalami berbagai konsep dan teori baik tentang alam, manusia, bahkan tentang Tuhan dan agama. Harapannya adalah dapat menguasai dan menekuni suatu bidang secara profesional, bisa melakukan terobosan-terobosan baru, bahkan melakukan prediksi-prediksi dengan tepat. Untuk hal ini, dalam filsafat dikenal sebagai logika inferensi. Sikap dan perlakuan manusia terhadap alam tampaknya sangat ditentukan oleh pemahamannya atau konsepnya tentang alam tersebut. Begitu pula sikap dan perlakan manusia terhadap sesama manusia sangat ditentukan oleh pemahamannya tentang manusia, bahkan mungkin juga dengan sikap manusia kepada Tuhan dan agama. Sehingga, menyadari kontruksi/bangunan pola pikir kita itu penting sebagai prasyarat atau bagian dari proses pengembangan diri.

Disini, filsafat dengan berbagai cabangnya, jelas menunjukkan peran dan kontribusinya. Sesuai dengan maknanya, filsafat adalah “cinta kearifan”. Pola pikir kefilsafatan adalah pola pikir yang teratur, sistematis dan konsisten. Pola pikir yang teratur jelas akan tampil dalam sikap dan perilaku yang teratur pula, tidak amburadul apalagi “yang penting beda”. Jelas perilaku yang terakhir ini bukan perilaku yang didasari oleh pemahaman filsafat. Disamping itu, filsafat juga menunjukkan bagaimana para filsuf menyelesaikan dan memberikan jalan keluar dari satu persoalan ke persoalan yang lain. Kemudian mencari, mengapa persoalan yang sama dapat muncul dalam variasi bahasa dari satu filsuf ke filsuf yang lain, dari satu generasi ke generasi yang lain. Dan bagaimana keterkaitan pola pikir antara satu filsuf dengan filsuf yang lain, dan seterusnya.

Begitulah, filsafat memang memperkenalkan banyak pola pikir sehingga kita dapat membandingkannya dari satu filsuf ke filsuf yang lain; dari satu generasi ke generasi yang lain; dari satu tradisi ke tradisi yang lain; dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain; dari satu ilmu ke ilmu yang lain, dan seterusnya. Dari situ kita juga dapat mengetahui konsekuensi logis dan sosiologis dari masing-masing pola pikir tersebut. Tidak hanya itu dalam perkembangan baru, filsafat juga membicarakan konteks historis, sosiologis, maupun psikologis yang melatarbelakangi terbangunnya suatu pola pikir tertentu.

Sudah tentu semua persoalan tidak akan selesai hanya dengan filsafat, tapi paling tidak filsafat dapat memberikan dasar-dasar bagi terbangunnya suatu kesadaran kreatif, peka, dan jernih dalam melihat persoalan, sehingga timbul kesadaran untuk terus mengembangkan diri. Atas dasar kerangka pikir ini, maka wajar jika filsafat menjadi disiplin yang tidak hanya menarik, tetapi dibutuhkan oleh semua kalangan. Dalam Islam misalnya, ada ilm al-mantiq dan beberapa ilm al-ushul yang juga tergolong filsafat. Semua itu merupakan mahakarya dari hukama’ dan filsuf kita.

Permulaan muncul filsafat

Sejarah kefilsafatan di kalangan filsuf menjelaskan 4 hal yang mendorong manusia berfilsafat yaitu kekaguman atau keheranan, keraguan, ketidakpuasan/ kesadarn akan keterbatasan, dan hasrat bertanya. Plato mengatakan “ mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan kepada kita untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini berawal ‘filsafat’.

Agustinus dan Descartes mulai berfilsafat dari keraguan atau kesangsian. Manusia heran, tetapi kemudian ragu-ragu, apakah ia ditipu oleh panca indranya yang sedang heran? Rasa heran dan meragukan ini mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh, dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang haqiqi. Berpikir secara mendalam, menyeluruh, dan kritis inilah yang kemudian disebt berfilsafat.

Berfilsafat dapat juga bermula dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri manusia. Ia akan memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan untuk menemukan kebenaran haqiqi. Ada beberapa jenis manusia dalam kehidupan ini, seperti buah pikir salah satu filosof:

Ada orang yang tahu di tahunya

Ada orang yang tahu di tidaktahunya

Ada orang yang tidak tahu di tahunya

Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya

Ciri kefilsafatan

Manusia berfilsafat karena ia berpikir, dan ia berpikir karena ia berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir, namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir sedalam-dalamnya. Karakteristik berfikir secara filsafat antara lain:

  1. Perenungan kefilsafatan adalah berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsional berawal dari berpikir radikal atau berpikir secara mendalam. Berpikir seara filsafat berarti berpikir sampai ke esensi, hakikat dan subtansi benda-benda. Sebagai konsekuensinya seorang filosof tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya dan yang ada dalam dirinya, melainkan juga membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri.
  2. Konsisten/Koheren. Filsafat adalah usaha mencari kebenaran haqiqi dan menghindari kontradiksi. Pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten (tidak runtut) adalah tidak masuk akal. Contoh pernyataan berikut: a) Hujan turun    b) Tidak benar bahwa hujan turun

Kalau kalimat a benar otomatis kalimat b tidak benar, demikian pula sebaliknya. Perenungan filsafat tidak boleh mengandung pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Mengapa? Sebab filsafat berusaha mencari penyelesaian atas pernyataan-pernyataan agar mudah untuk dipahami.

  1. Berpikir filsafat berarti logis dalam menyusun konsep. Untuk mencapai kesimpulan suatu kebenaran maka harus berangkat dari hal-hal (premis-premis) yang berhubungan secara logis. Contoh:

Semua mahasiswa UNIDA tinggal di asrama (premis mayor)

Budi adalah mahasiswa UNIDA (premis minor)

Berarti Budi tinggal di asrama

  1. Komprehensif. Yaitu menyeluruh, atau memandang obyek penyelidikan secara totalitas. Filsafat ingin mengetahui “apanya” atau hakikat dari obyek tersebut.

Peran filsafat

Filsafat adalah salah satu bidang yang berupaya menjelaskan proses pengetahuan. Filsafat berupaya mengungkap pola pikir di balik terjadinya pengetahuan, bahkan menunjukkan bahwa perbedaan pola pikir dapat menghasilkan jenis pengetahuan yang berbeda pula. Oleh karena itu dalam filsafat merupakan proses mengetahui sekaligus sebagai proses memahami. Yang dimaksud proses memahami adalah suatu proses yang diawali dengan adanya sikap “empati” yaitu i’tikad untuk “mendengarkan dengan sabar” proses mengurai benang kusut suatu pengertian. Proses mengurai ini pada dasarnya merupakan proses membuat skema pikir yang selama ini kusut tak ketemu ujung pangkalnya. Maka seseorang dianggap paham jika suatu persoalan telah ditemukan dengan jelas “peta pikirnya”. Sebaliknya suatu persoalan akan sulit dipahami, jika persoalan memang tidak jelas peta pikirnya. Dalam kaitannya ini, filsafat memang memberikan dasar-dasar pemahaman tentang pengetahuan, karenanya filsafat juga merupakan satu jenis pengetahuan yang terbuka, maksudnya terbuka untuk dipahami karena memang memahamkan. Sebaliknya juga terbuka untuk dikritik jika ternyata tidak dapat dipahami skema pikirnya. Filsafat dalam hal ini membawa kita pada pemahaman, dan pemahamn membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.

Filsafat memungkinkan seseorang berpikir secara komprehensif (menyeluruh), memberi peran yang wajar terhadap konsep, mendasar/radikal, konsiten/runtut, koheren/logis, sistematis, bebas, dan bertanggung jawab. Filsafat memperluas pandangan melalui disiplin ilmu tertentu. Filsafat membantu seseorang untuk menempatkan bidang ilmunya dalam perpektif lebih luas dan mendasar. Tanpa filsafat, ilmuwan cenderung berpandangan sempit. “Fisikawan yang mempelajari seekor gajah hanya dengan menggunakan mikroskop, akan memperoleh sedikit sekali pengetahuan binatang itu”, jelas Henri Poncaire seorang ahli matematika dan filsafat Perancis. Filsafat memberikan pendasaran rasional tentang hakekat eksistensi, pengetahuan, nila-nilai dan masyarakat.

Bagi orang beragama, filsafat memberikan pendasaran rasional terhadap kepercayaannya. Hasilnya, iman seseorang akan menjadi kokoh karena kepercayaannya mendapat dasar rasional dan dapat dipertanggung jawabkan.

Obyek kajian filsafat

Dalam banyak literatur dikatakan bahwa obyek kajian filsafat mencakup tiga hal yaitu alam, manusia dan Tuhan. Untuk itu ditinjau dari segi obyeknya kajian filsafat terbagi dalam tiga cabang: kosmologi, antropologi dan teologi. Disini harus diakui bahwa filsafat sebenarnya satu bidang kajian yang tidak pernah menyentuh obyeknya secara langsung. Karena, yang menjadi bidang garapannya adalah pola pikir di balik pengetahuan tentang alam, pengetahuan tentang manusia, dan pengetahuan tentang agama dan Tuhan.

Dalam kajiannya, filsafat memang tidak pernah membicarakan secara langsung, apalagi berhubungan dengan obyek alam sebagaimana ilmu pengetahuan alam. Juga tidak dengan obyek manusia sebagaimana sosiologi terlebih lagi berhubungan dengan agama dan Tuhan sebagaimana pengetahuan agama. Kajian filsafat hanyalah berhubungan dengan pola pikir manusia terkait dengan ketiga obyek tersebut.

Metodologi filsafat

Perlu diketahui metode berfilsafat adalah cara berpikir secara falsafi dengan usaha menyusun pikiran-pikiran konsepsional. Dalam hal ini berfilsafat adalah berusaha memperoleh makna dari istilah-istilah (pernyataan) dengan cara melakukan analisa terhadap istilah-istilah tersebut kemudian menyimpulkan hasil penyelidikannya ke dalam suatu sintesa.

Berarti metode berfilsafat ada analisa dan sintesa. Analisa yaitu melakukan pemeriksaan mendasar atas makna yang dikandung oleh istilah-istilah. Contoh:

  1. Meja itu nyata
  2. Apakah impian itu sesuatu yang nyata?

Dari pernyataan di atas harus diselidiki, apakah pernyataan “nyata” bila digunakan dalam hubungannya dengan sebuah meja punya makna yang sama dengan istilah nyata pada kalimat impian?

Dari sinilah maka harus dianalisa. Proses menganalisa harus menggunakan kerangka pikir yaitu logika penalaran. Proyek menganalisa ada dua bentuk: a) dengan melakukan penggolongan atas berbagai macam pengertian mengenai istilah. Penggolongan istilah ini bisa termasuk dalam ekstensi (penerapan lingkup istilah yang bersangkutan) atau termasuk dalam intensi (sifat dari istilah) yaitu konkret atau abstrak. Pada kalimat “nyata” seperti contoh di atas maka penggolongan istilah terhadap “nyata” yang pertama lebih kepada intensi konkret, sedangkan “nyata” yang kedua lebih kepada intensi abstrak. b) membandingkan dengan kalimat-kalimat lain yang sejenis. Bisa diambil pada contoh berikut: a) Triangles are geometric figures  b) Man is an animal

Maka bila sesuatu itu segitiga maka sesuatu itu merupakan ilmu bangun ukur

Bila sesuatu itu manusia maka sesuatu itu merupakan hewan

Sedangkan sintesa merupakan kebalikan dari sintesa yang bermakna pengumpulan yaitu mengumpulkan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menyusun pandangan dunia atau bisa disebut juga dengan kesimpulan prinsip. Di sisi lain sintesa merupakan kombinasi konsep yang berlainan yang membentuk kesatuan sehingga biasa disebut filsafat spekulatif (penyusunan sistem). Bisa diketahui dalam contoh berikut:

Tubuh merupakan materi yang bersifat tidak abadi dan berwujud secara indrawi

Akal merupakan materi yang bersifat tidak abadi dan tidak berwujud secara indrawi

Jiwa merupakan materi yang bersifat abadi dan tidak berwujud

Sintesa dari ketiga istilah di atas adalah sesuatu kesatuan yaitu MANUSIA.

 

Atas dasar kerangka pikir ini, maka wajar jika filsafat menjadi disiplin ilmu yang tidak hanya menarik, tetapi dibutuhkan oleh semua kalangan termasuk para agamawan sekalipun. Dalam Islam misalnya, ada ilmu al-Mantiq dan beberapa ilmu Ushul yang juga tergolong filsafat. Khazanah ini telah menghabiskan banyak eksemplar kitab, yang sebagian besar juga sampai pada kita saat ini. Semua itu merupakan mahakarya dari hukama’ atau filosof kita. Maka filsafat adalah satu bidang pengetahuan yang mesti dipelajari oleh para intelektual atau calon intelektual, para ilmuwan atau calon ilmuwan, termasuk segenap orang yang sengaja menekuni suatu profesi tertentu. Itulah sebabnya dalam filsafat terdapat beberapa cabang, antara lain: filsafat hukum, filsafat politik, filsafat ekonomi, filsafat sains, filsafat pendidikan, filsafat agama, filsafat Islam, filsafat moral, dan sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s