HUKUM MAWARIS SESUAI KITABULLAH & SUNNAH RASULULLAH SAW

قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم : ياَ أَبَا هُرَيْرَةَ ! تَعَلَّمُوْا الفَرَائِضَ وَعَلِّمُوْهَا فَإِنَّهُ نِصْفُ العِلْمِ وَهُوَ يُنْسَى، وَهُوَ أَوَّلُ شَيْءٍ يُنْزَعُ مِنْ أُمَّتيِ (رواه ابن ماجه)

Rasulullah Saw berkata : “Wahai Abu Hurairah! Pelajarilah al-Faraidh (ilmu mawaris/pembagian), sesungguhnya al-Faraidh merupakan bagian dari ilmu namun ia dilupakan, dan ia (al-faraidh) merupakan sesuatu yang hilang dari umatku.” (Riwayat Ibn Majah)

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengulas mengenai hukum mawaris (pembagian warisan) dalam Islam yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Diterangkan dalam bab mawaris terdapat beberapa materi diantaranya:

Hukum Mawaris

Hukum pembagian warisan dan menerima warisan antara kaum Muslimin wajib, sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Hal tersebut termaktub dalam firman Allah yaitu:

قال الله تعالى : لِلرِّجاَلِ نَصِيْبٌ مِمّاَ تَرَكَ الوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُوْنَ، وَ لِلنِّسَاءِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ الوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُوْنَ ممِّاَ قَلَّ مِنْهُ، أَوْ كَثُرَ نَصِيْباً مَفْرُوْضًا ( النّساء 7).

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”

Dan disebutkan dalam hadith yaitu:

قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: أَلْحِقُوْا الفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا بَقِيَ فَلْأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ (متفق عليه)

Berikanlah pembagian (harta warisan) kepada ahlinya (yang berhak), dan apabila terdapat sisa daripadanya maka utamakanlah kepada laki-laki .” (Riwayat Muttafaq ‘Alaihi).

Sebab-sebab Mawaris

Diterangkan bahwa ketetapan waris dalam hukum Islam disebabkan karena ada 3 hal antara lain:

  1. Nasab (keturunan) yaitu ikatan kekeluargaan. Dalam hal ini pihak yang mewariskan memiliki hubungan kekeluargaan atau nasab dengan pihak yang menerima waris. Misalnya ayah kepada anak, kakek kepada cucu dsb..
  2. Pernikahan yaitu hubungan pernikahan antara suami dan istri, meskipun keduanya belum melakukan jima’ dan belum memiliki anak.

قل الله تعالى: وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجَكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ( النّساء 12)

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.”

Ditambahkan bahwa hukum waris tetap berlaku wajib kepada suami – istri yang mengalami kasus cerai raji’ (). Sedangkan pada kasus perceraian ba’in (), waris hanya diberikan pada cerai yang disebabkan karena sakit dan kematian.

  1. Al-Wala’ (kecintaan/ kasih sayang)

Orang yang memerdekakan budak/hamba sahaya, dan ia sangat mengasihi hamba tersebut. Apabila ia mati dan tidak memiliki pewaris kecuali hamba sahaya yang dicintainya tersebut maka hamba tersebut berhak menerima warisannya. Hadith Rasulullah SAW :

قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم: الوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ (رواه ابن عبد البر وصححه)

Penghalang Waris

Ada beberapa hal yang menghalangi seseorang memberikan warisan kepada yang berhak menerima waris atau sebaliknya yaitu:

  1. Kafir

Seorang Muslim tidak boleh mewariskan kepada saudara/kerabatnya yang kafir atau sebaliknya seorang Muslim menerima warisan dari orang kafir.

قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم: لَايَرِثُ الكَافِرُ الُمسْلِمَ وَلَا الُمسْلِمُ الكَافِرَ

( رواه متفق عليه)

Rasulullah SAW bersabda: “ Seorang kafir tidak bisa mewariskan kepada Muslim, dan seorang Muslim tidak bisa mewariskan kepada kafir. (Muttafaq ‘Alaihi)

  1. Pembunuhan

Seorang pembunuh tidak bisa mewariskan kepada yang dibunuh (dengan disengaja).

  1. Hamba sahaya

Seorang budak/hamba sahaya tidak dapat mewarisi atau memberi warisan.

  1. Perzinahan

Syarat-syarat Waris

Adapun syarat sahnya waris antara lain:

  1. Tidak ada penghalang waris seperti yang diterangkan sebelumnya. Karena penghalang tersebut membatalkan syarat sahnya hukum waris.
  2. Kematian Pewaris, hukum waris berlaku bila sang pewaris dalam keadaan sudah meninggal.
  3. Hidupnya penerima waris.
  4. Mengetahui ilmu mawaris/pembagian warisan.

Macam-macam Warisan dan Ahli Waris

Warisan dibagi menjadi 2 bagian di antaranya:

  1. Fardhu yaitu bagian warisan yang sudah ditentukan secara pasti hitungan ukurannya kepada penerima waris. Diantara penerima warisan fardhu yaitu: seluruh pihak perempuan kecuali pemerdeka budak/hamba sahaya, dari pihak laki-laki: suami, saudara laki-laki seibu, ayah dan kakek (dari pihak ayah).
  2. Ta’shib yaitu bagian warisan yang ukurannya tidak pasti (tidak terukur) kepada penerima waris. Perihal ta’shib ini akan diterangkan pada bab yang lain. Di antara penerima warisan ta’shib yaitu: seluruh pihak laki-laki kecuali suami dan saudara laki-laki seibu. Sedangkan pihak perempuan tidak berhak mendapat bagian dari ta’shib kecuali pemerdeka budak/hamba sahaya.

Dipandang dari sebab-sebab warisan maka ahlu waris/pewaris digolongkan menjadi 3 macam di antaranya:

  1. Keluarga, pihak keluarga ini masih digolongkan kembali menjadi:
  • Ushul yaitu ayah, ibu, kakek (dari pihak ayah), nenek (dari pihak ibu).
  • Furu’ yaitu anak laki-laki, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, kemudian ke anak cucu dan seterusnya.
  • Kerabat dekat yaitu saudara kandung laki-laki dan perempuan, saudara laki-laki dan perempuan seayah, saudara laki-laki dan perempuan seibu, anak saudara kandung laki-laki (keponakan), dan anak saudara kandung laki-laki seayah.
  • Kerabat jauh yaitu paman kandung, paman seayah serta anak dari paman.
  1. Suami dan istri.

Suami berhak mewarisi hartanya kepada istrinya apabila dia mati, walaupun sang istri tersebut telah dicerainya namun dengan catatan masih dalam masa iddah. Apabila kematian suami tersebut ketika selesai dari masa iddahnya , maka sang istri tidak berhak menerima warisan.

  1. Pemerdeka budak (laki-laki dan perempuan).

Pewaris dari pihak laki-laki antara lain: anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, kakek dari pihak ayah, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, anak dari saudara kandung (keponakan), anak dari saudara seayah, paman kandung (dari pihak ayah dan ibu), paman dari pihak seayah saja, anak dari paman kandung, anak dari paman pihak seayah, suami, dan pemerdeka budak.

Pewaris dari pihak perempuan antara lain: anak perempuan, cucu perempuan, ibu, nenek dari ayah dan ibu, saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, istri, dan pemerdeka budak.

Macam-macam penerima waris dibagi menjadi 4 golongan yaitu:

  1. Penerima waris fardhu (terukur bagiannya) yaitu seluruh pihak perempuan kecuali pemerdeka budak, dari pihak laki-laki yaitu suami, saudara laki-laki seibu, ayah dan kakek dari pihak ayah.
  2. Penerima waris ta’shib (tidak terukur bagiannya) yaitu seluruh pihak laki-laki kecuali penerima waris fardhu. Dan pemerdeka budak (perempuan).
  3. Penerima waris fardhu dan ta’shib yang bisa tergabung dalam golongan keduanya (fardhu & ta’shib) yaitu ayah dan kakek dari pihak kakek.
  4. Penerima waris fardhu dan ta’shib, namun tidak bisa tergabung dalam golongan keduanya yaitu anak perempuan, cucu perempuan, saudara kandung perempuan dan saudara perempuan seayah.

Ketentuan Pembagian Warisan

Penjelasan mengenai ketentuan pembagian warisan yang diatur oleh al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW termaktub dalam firman Allah surat Al-Nisa’ ayat 11, 12, dan 176, dibagi menjadi 6 bagian di antaranya setengah, seperempat, seperdelapan, dua pertiga, sepertiga, dan seperenam.

Bagian Setengah

Ditentukan kelompok penerima waris yang mendapat bagian warisan setengah yaitu:

  1. Suami , yang ditinggal mati istri tanpa memiliki anak, cucu baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Anak perempuan, apabila ia ditinggalkan ayah/ibu tanpa memiliki saudara laki-laki dan perempuan (anak tunggal).
  3. Cucu perempuan yang ditinggalkan sendirian tanpa memiliki cucu laki-laki.
  4. Saudara perempuan kandung yang ditinggalkan sendirian tanpa memiliki saudara laki-laki, ayah, anak laki-laki dan cucu laki-laki.
  5. Saudara perempuan kandung seayah yang ditinggalkan sendiri tanpa memiliki saudara laki-laki, ayah, dan cucu laki-laki.

Bagian Seperempat

Ditentukan kelompok penerima waris yang mendapat bagian warisan seperempat yaitu:

  1. Suami yang ditinggal mati istri dengan memiliki anak dan cucu (laki-laki/perempuan).
  2. Istri yang ditinggal mati suami tanpa memiliki anak dan cucu.

Bagian Seperdelapan

Bagian ini hanya dimiliki oleh seorang istri yang ditinggal mati suami dengan memiliki anak dan cucu. Jika suami mati meninggalkan beberapa istri dan meninggalkan anak maka bagian seperdelapan dibagi rata sesuai jumlah istri.

Bagian Dua Pertiga

Bagian ini dikategorikan bagi penerima waris:

  1. Anak perempuan yang berjumlah 2 orang atau lebih, tanpa memiliki saudara laki-laki.
  2. Cucu perempuan yang berjumlah 2 orang atau lebih, yang ditinggalkan tanpa ada anak laki-laki dan cucu laki-laki.
  3. Saudara kandung perempuan yang berjumlah 2 orang atau lebih yang sudah tidak memiliki ayah.
  4. Saudara perempuan kandung seayah berjumlah 2 orang atau lebih yang tidak memiliki ayah dan saudara laki-laki.

Bagian Sepertiga

Bagian ini dikategorikan bagi penerima waris:

  1. Ibu, yang ditinggalkan oleh anak tanpa memiliki anak yang lain dan cucu serta saudara kandung.
  2. Saudara kandung laki-laki seibu, apabila pewaris (pihak yang mati) tidak memiliki ayah, kakek, anak dan cucu.

Catatan: Di bagian sepertiga ini ada pengecualian yaitu mendapat bagian disebut sisa sepertiga (لباقى اثلث ). Dalam hal ini diperuntukkan bagi ibu yang ditinggalkan oleh anak namun masih ada ayah (suami dari ibu) yang hidup. Diterangkan dalam contoh sebagai berikut:

  1. Apabila seorang istri mati dengan meninggalkan suami, ayah, ibu dan tanpa meninggalkan anak/cucu. Sang istri meninggalkan harta sebesar 6 milyar maka pembagiannya :
  • Suami mendapat bagian ½ (setengah) yaitu 3 milyar
  • Ibu mendapat bagian sisa 1/3 (لباقى اثلث) karena masih ada ayah, yaitu 1 milyar
  • Ayah mendapat bagian ta’shib (akan diterangkan pada bab lainnya) yaitu 2 milyar
  1. Apabila suami mati dengan meninggalkan istri, ayah, dan ibu. Ia meninggalkan harta 4 milyar maka pembagiannya:
  • Istri mendapat bagian ¼ yaitu 1 milyar
  • Ayah mendapat bagian ta’shib yaitu 2 milyar
  • Ibu mendapat bagian لباقى اثلث yaitu 1 milyar

Bagian Seperenam

Bagian ini dikategorikan bagi penerima waris:

  1. Ibu, apabila ditinggalkan oleh anak dengan ada anak yang lain (saudara pewaris), cucu dan saudara laki-laki/perempuan (dari pihak seibu/seayah).
  2. Kakek (ayah dari pihak ayah).
  3. Ayah, apabila ditinggalkan anak dengan adanya saudara pewaris dan cucu.
  4. Cucu perempuan, apabila sang pewaris hanya memiliki anak perempuan tunggal
  5. Saudara kandung perempuan seayah yang tidak memiliki saudara laki-laki, anak laki-laki, cucu, ibu dan kakek.
  6. Saudara kandung laki-laki/perempuan seibu, apabila pewaris tidak memiliki ayah, kakek, anak dan cucu. Serta dengan syarat saudara ibu tersebut sebagai anak tunggal (tanpa memiliki saudara).

Penjelasan mengenai Ta’shib (التعصيب)

Ta’shib bisa diartikan sebagai sisa. Maka dalam hal ini ta’shib al-warathah yaitu sisa bagian warisan. Makna dari kata العاصب adalah orang yang diperbolehkan/ diberikan hak kepadanya menerima semua harta warisan ketika ia ditinggalkan sendirian oleh pewaris. Dalam hal ini seorang ‘Ashib berhak menerima sebagian besar sisa dari warisan yang ditinggalkan atau tidak berhak menerima jika tidak ada bagian yang ditinggalkan. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: أَلْحِقُوْا الفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا، فَمَا بَقِيَ فَلْأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ (متفق عليه)

Berikanlah pembagian (harta warisan) kepada ahlinya (yang berhak), dan apabila terdapat sisa daripadanya maka utamakanlah kepada laki-laki .” (Riwayat Muttafaq ‘Alaihi).

Macam pihak yang berhak menerima bagian ta’shib

  1.  بنفسه عاصبyaitu semua pihak laki-laki kecuali suami dan saudara kandung laki-laki dari pihak ibu. Semua pihak tersebut antara lain:
  • Anak laki-laki, cucu laki-laki dan seterusnya ke bawah
  • Ayah, kakek dan seterusnya ke atas
  • Saudara kandung laki-laki atau saudara kandung laki-laki seayah
  • Anak saudara kandung laki-laki (keponakan), anak saudara kandung laki-laki seayah dan seterusnya ke bawah
  • Paman kandung dan paman seayah saja
  • Hubungan dekat (الولاء) dengan hamba sahaya laki-laki
  1. عاصب بالغير yaitu semua pihak perempuan yang mendapat sisa bagian warisan dari pihak laki-laki (1/2 dari laki-laki). Di antaranya:
  • Anak perempuan kandung yang mendapat ½ bagian dari sisa bagian anak laki-laki
  • Cucu perempuan
  • Saudara perempuan kandung
  • Saudara perempuan kandung seayah
  1. عاصب مع الغيرyaitu pihak perempuan yang mendapat sisa bagian warisan dengan adanya pihak lain. Yaitu berlaku bagi saudara perempuan baik kandung maupun saudara perempuan kandung seayah bersama dengan anak kandung perempuan/cucu perempuan. Hal ini dengan syarat tidak adanya saudara/ anak laki-laki.

Pengguguran Warisan (الحجب)

Yang dimaksud dengan pengguguran warisan yaitu batalnya penerimaan hak waris terhadap ahlu waris dikarenakan adanya pihak yg lebih diutamakan menerima hak waris. Dalam poin pengguguran warisan dibagi menjadi 3 bagian antara lain:

  1. Al-Hijb al-Washfi ( الوصفالحجب)yaitu pembatalan penerimaan waris karena pihak penerima waris dinilai bertentangan dengan syarat sahnya waris seperti: pembunuh, orang musyrik, pezina, dan lainnya.
  2. Al-Hijb al-Shakhsyi (الحجب الشخص) yaitu pembatalan warisan karena adanya pihak yang lebih berhak menerima warisan. Dalm poin ini hijb al-syakhsyi dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
  • pengurangan pembatalan, yaitu pembatalan hak warisan hanya dilakukan dengan mengurangi bagian. Seperti seorang suami yang ditinggal mati istri, hak seharusnya mendapat ½ bagian, namun karena istri juga meninggalkan anak maka bagian suami dikurangi menjadi ¼ bagian.
  • pembatalan keseluruhan, yaitu pembatalan hak warisan secara keseluruhan (tidak mendapat bagian apapun). Hal tersebut karena adanya pihak yang lebih berhak. Seperti hak seorang kakek dibatalkan karena adanya ayah.

Siapa saja pihak yang tidak mendapatkan pembatalan warisan keseluruhan, dalam arti ini adalah pengecualian yaitu: Ayah, Ibu, Anak kandung laki-laki, anak kandung perempuan, suami dan istri.

Cara Penghitungan Bagian dalam Waris

Dalam ilmu faraidh, sumber penghitungan merupakan hal pokok yang perlu dipahami oleh pihak pewaris dan orang-orang terkait. Hal ini diupayakan agar pembagian warisan menjadi adil dan sesuai dengan hak yang telah digariskan syari’at Islam tanpa ada kekurangan apapun.

Dalam masalah ini dikenal dengan istilah KPT ( لمقاماتا) sebagai pembanding bagi setiap bagian warisan. Apabila bagian tersebut terdiri dari 1/2, ¼, dan 1/6 maka KPT terdiri dari 2,4, dan 6 yang diambil kelipatannya yaitu 12 sebagai pembanding dalam masalah pembagian waris. Dalam melihat masalah ini para ulama Fiqh memperinci bagian-bagian waris yang disorot dari hak waris. Ada yang terdiri dari penerima waris ‘ashib, ada yang penerima waris fardhu, dan adapula yang menerima ‘ashib dan fardhu. Dijelaskan sebagai berikut:

  1. apabila semua penerima waris bagian ‘ashib, maka masalah pembagian sesuai dan sama dengan hak mereka yaitu apabila semuanya dari pihak laki-laki. Dan apabila penerima ‘ashib dari pihak laki-laki dan perempuan, maka laki-laki mendapat bagian 2 kali lipat dari pihak perempuan. Sesuai dengan ketentuan al-Qur’an surat an-Nisa 11. Hal ini bisa dilihat pada contoh berikut:
5 contoh 1
5 ع 5 orang laki-laki
7 contoh 2
4 ع 2 orang laki-laki
3 3 orang perempuan

  1. apabila penerima waris termasuk dalam golongan fardhu, maka pembanding /KPT pembagiannya telah ditentukan sebagai berikut:
  • apabila hak waris bagian ½ dan ¼ termasuk dalam 1 pembagian, maka KPT nya adalah 4
  • apabila hak waris bagian 1/6 dan 2/3 termasuk dalam 1 pembagian, maka KPT nya adalah 6
  • apabila hak waris bagian ½, 1/6, dan 2/3 termasuk dalam 1 pembagian, maka KPT nya adalah 6
  • apabila hak waris bagian ¼, 1/6 dan 2/3 termasuk dalam 1 pembagian, maka KPT nya adalah 12
6 contoh 1
3 1\2 Suami
1 1\6 saudara laki-laki seibu
2 1\3 ibu
0 ع paman kandung
12 contoh 2
3 1\4 istri
2 1\6 ibu
4 1\3 2 saudara laki-laki seibu
3 ع saudara kandung laki-laki
  • apabila hak waris bagian 1/8, 1/6, dan 2/3 termasuk dalam 1 pembagian, maka KPT nya adalah 24

 

24 contoh 3
3 1\8 istri
12 1\2 aanak perempuan
4 1\6 cucu perempuan
4 1\6 ibu
1 ع saudara kandung laki-laki

Penghitungan pembagian warisan dilihat dari segi KPT atau pembanding dikategorikan dalam 4 bentuk yaitu:

6 3 contoh 2
4 2 2\3 2 saudara kandung perempuan
2 1 1\3 2 saudara laki-laki seibu
  1. at-Tamathul (التماثل), apabila jumlah bagian warisan dalam satu pembagian merupakan bilangan yang sama seperti (2 dan 2), (3 dan 3), dan (6 dan 6). Pembagiannya bisa dilihat dari contoh berikut:
2 contoh 1
1 1\2 suami
1 1\2 saudara kandung perempuan
4 contoh 1
1 1\4 istri
2 1\2 saudara kandung perempuan
1 ع paman
6 contoh 2
3 1\2 anak kandung perempuan
1 1\6 ibu
2 ع saudara kandung laki-laki
  1. at-Tadakhul (), apabila jumlah bagian warisan dalam satu pembagian merupakan bilangan kelipatan seperti (2,4,dan 8), (3,6, dan 12). Pembagiannya bisa dilihat dari contoh:

8 contoh 3
4 1\2 anak kandung perempuan
1 1\8 istri
3 ع saudara kandung laki-laki

  1. At-Tawafuq (), apabila jumlah bagian warisan dalam satu pembagian merupakan bilangan yang bisa sama dibagi seperti, (4 dan 6) maka tawafuqnya adalah 1\2, (6 dan 9) maka tawafuqnya adalah 1\3. Bisa dilihat pembagiannya pada contoh berikut

24 contoh 1
4 1\6 ibu
3 1\8 istri
17 ع anak laki-laki
12 contoh 2
3 1\4 suami
2 1\6 ibu
7 ع anak laki-laki

  1. At-Tabayun (),apabila jumlah bagian warisan dalam satu pembagian merupakan bilangan yang tidak termasuk dalam at-Tamathul, at-Tadakhul dan at-Tawafuq seperti, (2 dan 3), dan (3 dan 4). Bisa dilihat pada contoh berikut:
6 contoh 1
2 1\3 ibu
3 1\2 saudara kandung perempuan
1 ع paman
12 contoh 2
3 1\4 istri
4 1\3 ibu
5 ع saudara kandung laki-laki

Dari keterangan mengenai hukum waris di atas…semoga dapat menambah wawasan kita dan meneguhkan keimanan…..Wallahu ‘Alam Bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s