SISTEM PENALARAN AL-QUR’AN

Adapun tulisan yang ditulis kali ini terinspirasi dari buah pikir DR. TH. Thalhas dan DR. Hasan Basri, dimana kedua tokoh tersebut menuangkan pikiran dan gagasannya dalam buku “Spektrum Saintifika Al-Qur’an”.

Al-Qur’an memiliki karakteristik tersendiri yang benar-benar berbeda dengan kitab dan buku-buku lainnya. Al-Qur’an tampil melampaui kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan serta peradaban manusia. Anjuran untuk memajukan usaha penelitian, pemahaman, pengkajian, dan penelaahan al-Qur’an. Sebagai gambaran umum seperti yang disajikan oleh penulis pada tulisan sebelumnya (lihat pada judul “Mari Menggali al-Qur’an”) mengenai wahyu-wahyu yang berkaitan secara kronologis di antaranya yang berhubungan dengan ilmu tumbuhan, ilmu falak, ilmu hewan, ilmu geografi…dll. Pengungkapan surat-surat tersebut dimaksudkan untuk menelusuri, mengkaji dan menemukan bagaimana pola dan metode penafsiran al-Qur’an yang efektif, efisien dan akurat. Metode penafsiran al-Qur’an yang digunakan selama ini berkisar pada 3 pendekatan yaitu: tafsir bi al-ma’tsur, tafsir bi al-ra’yi, dan tafsir bi al-isyari.

Tafsir bi al-Ma’tsur

Yaitu tafsir yang merujuk kepada penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran al-Qur’an dengan al-Hadith, penafsiran al-Qur’an dengan perkataan sahabat (al-Athar). Metode ini dianggap paling akurat dari metode lainnya karena langsung merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an, al-Hadith dan ijtihad para sahabat. Contoh tafsir dengan meode ini : tafsir al-Qur’an al-Adzim oleh Ibnu Katsir.

Tafsir bi al-Ra’yi

Yaitu penafsiran al-Qur’an didasrkan pada akal pikiran dan rasio. Tafsir ini dibagi menjadi 2 yaitu tafsir mahmudah dan tafsir madhmumah. Tafsir mahmudah didasarkan pada ijtihad yang benar dan tidak menyimpang dari aqidah. Sedangkan tafsir madhmumah tanpa didasarkan ilmu pengetahuan yang benar sehingga hanya didasarkan pada keinginan pribadi dengan mengabaikan kaidah-kaidah dan aqidah Islam. Contoh dari tafsir madhmumah adalah Mafatihul Ghaib karya Fakhrur Razi.

Tafsir bi al-Isyari

Disebut juga tafsir sufi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan melibatkan kapasitas sufistik, mencoba memahami ayat-ayat dengan mengungkap makna di balik makna lahiriah ayat. Penafsiran ini dapat diterima sepanjang memenuhi syarat-syarat yaitu: tidak menafikan makna lahiriah ayat, didukung oleh dalil syara’, tidak bertentangan dengan syara’ dan akal sehat. Contohnya Haqaiqu al-Tafsir karya as-Sulami.

Selain cara dan metode tafsir tersebut kemudian dikembangkan 4 corak penafsiran yaitu : metode ijmali, tahlili, maudhu’I, dan muqarran.

Metode Ijmali

Metode penafsiran al-Qur’an menurut susunan mushaf, dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas. Metodenya, penafsiran dilakukan terhadap kata-kata (vocab) kemudian dijelaskan ayat satu per satu secara berurutan menurut susunan al-Qur’an. Metode ini mengacu pada kaidah bahasa al-Qur’an dan sangat tergantung pada tingkat keahlian bahasa mufassirnya. Acap kali metode ini berjalan sesuai dengan keadaan dan kemampuan seorang mufassir, apabila mufassir ahli dalam sejarah maka akan menonjolkan aspek-aspek sejarah dalam tafsirnya, kemudian apabila mufassir ahli dalam bidang fiqih maka tafsirnya lebih mengacu kepada pembahasan fiqih dan sebagainya.

Metode Tahlili

Metode penafsiran al-Qur’an dengan menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang ditinjau dari beberapa aspek. Dalam penafsiran dengan mengurutkan susunan surat dalam al-Qur’an, dimulai dari mengemukakan arti kosakata kemudian menjelaskan maksud ayat dengan global. Kemudian kajiannya juga dikorelasikan hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain, selanjutnya diterangkan mengenai latar belakang diturunkan ayat tersebut.

Metode Maudhu’i

Disebut juga dengan metode tematik, yaitu penafsiran berdasarkan tema dan topiktertentu. Kemudian pokok permasalahan atau tema tersebut dihubungkan dengan ayat-ayat senada yang terdapat dalam al-Qur’an. Metode ini dapat diterapkan untuk satu surat secara utuh. Kelebihan tafsir metode ini, mufassir dapat mengungkapkan maksud ayat-ayat yang dikaji secara mendalam dan lebih akurat karena langsung merujuk kepada penjelasan ayat dan ayat. Contoh metode tafsir ini yang ditulis oleh Syeikh Mahmud Syaltout berjudul al-Qur’an wa al-Mar’ah dan al-Qur’an wa al-Qital, kemudian karya Abbas Mahmud yaitu al-Insan fi al-Qur’an dan karya Abbas al-Gamal Tafsir Ayat al-Birri min Ayat al-Qur’an al-‘Adzim.

Metode Muqarran

Yaitu penafsiran al-Qur’an secara komparatif dengan menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis oleh sejumlah mufassir dari berbagai kitab tafsir. Dalam mengemukakan maksud ayat-ayat, mufassir menempuh langkah-langkah: menghimpun sejumlah ayat al-Qur’an, meneliti dan mengkaji penafsiran yang pernah dilakukan oleh sejumlah mufassir melalui kitab-kitab mereka, membandingkan arah dan kecenderungan masing-masing mufassir serta menganalisis pendapat para penafsirnya.

Terlepas berbicara mengenai metode penafsiran al-Qur’an, dapat diketahui betapa banyak ayat al-Qur’an yang memotivasi umat Islam untuk selalu menggunakan akal pikiran dan penalaran. Al-Qur’an mengajak manusia untuk menyelidiki dirinya sendiri dan mendorong umat manusia untuk memperhatikan alam sekitar. Kemudian al-Qur’an menghadapkan tantangannya kepada manusia mengenai upaya penaklukkan angkasa luar. Manusia ditantang untuk menembus angkasa luar, keluar dari planet bumi ke alam luar untuk bertamasya ke planet-planet lain.

ياَ مَعْشَرَ الجِنِّ وَ الإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ فَانْفُذُوْا لَا تَنْفُذُوْنَ إِلاَّ بِسُلْطَانٍ.

Hai bangsa jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus seluruh penjuru langit dan bumi, maka tembusilah lintasilah, kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan menggunakan “sulthan”. (QS. Al-Rahman 33).

Allah mendorong manusia untuk mengadakan eksplorasi , tetapi manusia tidak akan mampu mencapainya tanpa power atau sulthan atau otoritas. Kemudian Allah bersumpah dengan gugusan bintang-bintang. Allahmenegaskan bahwa sumpahNya dengan bintang-bintang itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi orang-orang yang menggunakan daya nalarnya.

Mengenai sains dan ilmu pengetahuan, biasanya diasumsikan oleh sebagian orang ke dalam tiga statemen: ilmu itu mengetahui, ilmu itu meramalkan, dan ilmu itu berkuasa. Francis Bacon (1561-1626) seorang pemikir Inggris membuat asumsi bahwa ilmu pengetahuan itu berkuasa. Apakah kekuatan “sulthan” dapat juga disebut sebagai kekuasaan? Kalau benar, maka apa yang disebut “sulthan” dalam ayat ini adalah ilmu dan tekhnologi. Maka jawaban tantangan dari al-Qur’an kepada manusia ini melalui jalan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan teori-teori ilmiah. Ketika teori ilmiah mengungkapkan istilah-istilah medis, fisika, dan natural science, misalnya, al-Qur’an telah terlebih dahulu menyebutkannya dengan istilah yang berbeda. Beberapa istilah ilmiah yang dikemukakan para saintis telah disebutkan dahulu dalam al-Qur’an antara lain:

* Tentang rahim ibu yang terdiri dari 3 lapis: endometrium, myometrium, dan primetrium, disebut dalam al-Qur’an surat al-Zumar ayat 6.

* Tentang gravitasi yang ditemukan oleh Newton (1667), telah disebut dalam al-Qur’an surat al-Rahman ayat 7.

* Tentang penemuan alam semesta yang ditemukan oleh DR. E. Huble, telah terdapat dalam al-Qur’an surat al-Dzariyyat ayat 47, al-Anbiyya’ ayat 104, dan Yasin ayat 38.

* Tentang ruang hampa di angkasa luar yang diindikasikan, disebut dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 125.

Dan masih banyak ungkapan ilmu pengetahuan yang termaktub dalam al-Qur’an. Berdasarkan sinyal-sinyal tersebut maka al-Qur’an menempatkan orang-orang yang beriman, berilmu, dan beramal sesuai dengan ilmunya, pada derajat yang paling tinggi di antara para manusia lainnya. Tiga rangkaian kata iman, ilmu, dan amal adalah ajaran Islam yang fundamental.

Beberapa metode penalaran al-Qur’an yang dikembangkan oleh ilmuwan Muslim antara lain:

Metode Komparatif

Merupakan studi perbandingan terhadap gejala-gejala alam. Dengan metode ini, seseorang mampu mengungkapkan rahasia alam dari prinsip dasar, sunnatullah, yang terjadi atas dua variable yang berlawanan atau berbeda. Dalam surat al-Ra’ad ayat 4 misalnya disebutkan : di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama; Kami melebihkan rasa sebagian atas sebagian yang lain; Sesungguhnya pada fenomena itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir. Ayat-ayat senada juga disebutkan dalam surat Nuh ayat 1-10; dan al-Fajr ayat 1-5.

Metode Observasi

Dalam al-Qur’an, metode observasi sering dihubungkan dengan metode pendidikan dan pengajaran; ketika seseorang secara langsung pada obyek penelitian. Pendidikan Luqman terhadap anak-anaknya merupakan contoh konkret yang sangat menarik dalam kasus ini; dan Nabi Ibrahim ketika ‘mencari’ Tuhan yang harus disembah ( lihat surat Luqman 12-19; al-Mu’min 79-81; dan as-Syams 1-6).

Metode Historis

Al-Qur’an mengajak manusia untuk melihat peristiwa-peristiwa penting yang telah berlalu, yang dapat dijadikan pelajaran bagi generasi-generasi masa kini dan akan datang. Bukti tentang kehancuran kaum ‘Ad, Tsamud, Aikah, Fir’aun, kaum Luth dan Nuh, Abu Lahab, kaum Syuaib, dan Shalih menjadi sampel yang signifikan dalam studi ilmiah. Dengan demikian penelitian dapat dilakukan dengan menelusuri sejarah dengan menggunakan data-data geografis, geologis, dan arkeologis. Hamper sepertiga kandungan al-Qur’an mengandung pesan-pesan historis. Ayat-ayat mengenai metode ini disebutkan antara lain dalam surat Muhammad ayat 10, surat Yusuf ayat 109 dan surat Yunus ayat 92.

Metode Estimasi

Cara mengungkapkan suatu peristiwa yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Berita yang diungkapkan al-Qur’an mengenai peristiwa yang bakal terjadi seringkali menjadi kenyataan. Pengungkapan al-Qur’an ini tidak terbatas ruang, waktu dan kehidupan duniawi tetapi juga peristiwa setelah mati atau Kiamat. Peristiwa duniawi misalnya kekalahan dan kemenangan negeri Romawi menjadi kenyataan beberapa tahun kemudian (surat ar-Rum 1-7). Peristiwa kiamat yang digambarkan dalam surat al-Takwir 1-14; al-Zalzalah 1-6; dan al-Qari’ah 1-5. Berita yang diungkap al-Qur’an ini juga digunakan dalam metode ilmiah modern untuk menemukan dan menguji sebuah teori. Namun, sangat berbeda dengan estimasi al-Qur’an. Estimasi para ilmuwan kerap kali meleset atau tidak menjadi kenyataan.

Metode Uswah

Metode ini dianggap paling ampuh dalam memberikan pelajaran kepada seseorang. RAsulullah SAW sendiri merupakan uswah hasanah bagi manusia. Al-Qur’an menggambarkan Rasulullah SAW sebagai manusia yang memiliki perilaku yang indah dan agung (surat al-Qalam ayat 4; al-Ahzab 21).

Betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam pandangan al-Qur’an telah mendorong manusia agar membaca dan menulis. Lima ayat pertama dari surat al-‘Alaq, misalnya al-Qur’an menggunakan kata iqra’ yang artinya “bacalah!”. Begitulah al-Qur’an diturunkan, pada saat itulah al-Qur’an memerintahkan manusia agar membaca dengan menggunakan daya nalar dan alat panca indranya. Jika manusia mengikuti perintah tersebut dengan sungguh-sungguh, maka ia tidak akan menjadi buta huruf dan buta hati. Cukuplah al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam. Umat Islam tidak boleh terbius oleh doktrin-doktrin sekularisme yang dipropagandakan dimana-mana oleh orang yang jauh dari al-Qur’an. Umat Islam tempo dulu, pada zaman keemasan Islam, mereka menjadi obor kemanusiaan yang dipertuan oleh dunia Timur dan Barat, sebab mereka menjadikan al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber asasi dalam mengatur hidup dan perjuangan meeka. Sebaliknya, ketika mereka tidak lagi berpedoman pada al-Qur’an, mereka menjadi lemah, mundur, statis, terpecah-belah dan akhirnya menjadi umat yang dijajah.

Al-Qur’an adalah kekuatan spiritual yang paling hebat sebagaimana yang dinyatakannya sendiri. Sebab dengan al-Qur’an, manusia dapat maju ke arah kesempurnaan. Kuat atau lemah, maju atau mundur umat Islam tergantung pada sikap dan loyalitasnya terhadap al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi untuk dibaca dengan lagu-lagu merdu, bukan pula hanya berfungsi hanya untuk Musabaqah Tilawatil al-Qur’an saja, tetapi ia harus difungsikan dan diaplikasikan dalam kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat. Al-Qur’an harus disosialisasikan agar dapat dipahami makna dan hikmahnya oleh masyarakat luas. Al-Qur’an harus diaktifkan dalam membina kemanusiaan.

Demikianlah ungkapan yang patut dikemukakan untuk memahami prototipe al-Qur’an. Kemudian berbicara mengenai penalaran ilmiah, maka metode yang ditempuh adalah mengikuti prosedur yang diakui kevalidan dan keakuratannya sehingga dapat menghasilkan kebenaran-kebenaran yang dapat diuji. Penerapannya sebagaimana telah dirintis oleh para ilmuwan Muslim masa lampau.

Wallahu A’alambishawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s