FILOSOFI MASYARAKAT MADANI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Artikel yang saya tulis kali ini terinspirasi dari buah karya Mulyadi Kartanegara[*], dalam perspektif pemahamannya mengenai masyarakat madani.

Kata “madani” tentu saja berkaitan dengan kata madinah yang berarti “kota”, sehingga masyarakat madani bisa berarti masyarakat kota. Masyarakat kota disini lebih merujuk pada karakter atau sifat tertentu yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Oleh karena itu, kata urban yang diterjemahkan kota, juga berkaitan erat dengan kata “urbane” yang artinya “ memiliki sifat yang lembut (refined), halus, terpoles (polished), atau sopan (polite).  Dalam kamus bahasa Inggris, masyarakat madani berkaitan dengan kata civilized dan dalam kamus bahasa Arab dikaitkan dengan kata tamaddun yang keduanya berarti “memiliki peradaban”. Dengan demikian topic kali ini lebih tepatnya berbicara tentang bagaimana membangun karakteristik ideal masyarakat kota.

Kata “peradaban” identik dengan kesopanan atau etiket. Kesopanan atau etiket telah dikembangkan sedemikian rupa oleh masyarakat Muslim di kota-kota besar seperti Baghdad, Isfahan, Damaskus, Cordoba dan lainnya, untuk membedakan dari masyarakat yang masih sederhana yang terkesan kasar, dan bersahaja sebagaimana ditemukan di dalam suku-suku Baduwi. Dalam sejarah peradaban Islam, kita menyadari betapa semakin besar sebuah kota, semakin halus dan tinggi tingkat keadaban mereka. Hal ini misalnya dapat dilihat dari hinaan warga kota Baghdad pada Abu al-Hasan al-Amiri (w. 983), seorang filsuf dari Khurasan, ketika berkunjung ke kota tersebut. Amiri dikatakan “terlalu kasar” atau “kurang polesan” menurut standar orang Baghdad. Walaupun al-Amiri mengkritik warga kota Baghdad sebagai hipokrit, tetapi ia menyadari dan mengakui keunggulan keadaban warga Baghdad, hingga ia mengatakan, “yang terbaik bagi kita adalah memiliki kehalusan budi orang Baghdad dan kejujuran orang-orang Khurasan.”

Dalam konteks tersebut, dipahami oleh Mulyadi sebagai alasan para ulama besar yang berusaha keras menyusun berbagai adab (etiket) dari hamper setiap tingkah laku manusia, seperti adab makan dan minum, adab nikah, adab berusaha, dan adab mencari nafkah. Semua itu dilakukan dalam rangka membangun, mengembangkan, dan memperhalus budi pekerti masyarakat kota agar berbeda dengan masyarakat pedesaan dan masyarakat bersahaja. Tentu saja adab dalam kebudayaan Islam tidak terbatas pada pengertian etiket saja, tetapi telah berkembang pada bentuk-bentuk yang lebih maju dan kompleks. Oleh karena itu seorang “adib” pada masa itu dituntut menjadi manusia kosmopolit yang memiliki informasi komprehensif tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat kota. Pengetahuannya harus luas, meliputi bukan saja syariat yang disepakati sebagai prinsip dari ketertiban umum, namun juga penguasaan di bidang ilmu pengetahuan seperti biologi, geografi, filsafat dan sejarahyang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kehalusan budi dan kepekaan estetikanya. Maksudnya, ilmu-ilmu tersebut dipelajari bukan hanya untuk ilmu itu sendiri, tetapi juga untuk kepentingan peradaban.

Cita-cita masyarakat madani yang diungkap Mulyadi dibatasi pada bidang-bidang kulturan yang berkaitan dengan cara atau sikap hidup yang seyogyanya dimiliki masyarakat perkotaan. Hal tersebut diambil dari beberapa contoh historis dari cita-cita masyarakat madani, yang banyak ditemukan melalui ucapan maupun tindakan para pendukung kebudayaan Islam baik itu ulama, sufi, ilmuwan dan filsuf Muslim. Sebagaimana kota Jakarta, kota-kota besar dunia Islam pada masa kejayaannya terutama Baghdad dan Cordoba merupakan masyarakat majemuk yang hidup dari berbagai latar belakang etnik, suku, bangsa, dan agama berkumpul bersama. Tentu saja keadaan ini menimbulkan tantangan-tantangan sendiri yang perlu dijawab oleh masyarakat perkotaan dengan mengembangkan sifat-sifat yang cocok dengan keadaan. Sifat-sifat yang cocok dengan keadaan inilah yang dimaksud dengan cita-cita masyarakat madani diantaranya meliputi inklusivisme, humanism-egalitarianisme, toleransi dan demokrasi.

vinklusivisme

Sikap inklusif sebenarnya telah dipraktikkan oleh para adib ketika menyusun “adab” mereka. Selain menggunakan al-Qur’an dan al-Hadith sebagai sumber paling otoritatif, para adib juga menggunakan sumebr lain dari kebudayaan lain. Misalnya, ketika mengambil pelajaran moral dari karakter hewan-hewan, mereka tidak ragu-ragu menggunakan karya-karya fable dari kebudayaan luar terutama India seperti kitab Kalalah wa al-Dimnah karya seorang pujangga India, Bidpei. Karya ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Ibn Muqaffa pada abad IX dan menjadi contoh ideal bagi setiap karya seperti itu. Selain para adib, para ilmuwan dan filsuf Muslim juga mengembangkan sikap inklusif yang serupa dalam karya mereka. Dalam bidang matematik, misalnya, para ahli matematik Muslim telah belajar banyak dari matematika India. Dikatakan bahwa al-Khawarizmi telah menerjemahkan karya matematika India Siddanta al-Kubra ke dalam bahasa Arab pada abad IX dan mendorong ahli-ahli matematika Muslim lainnya untuk berkarya lebih kreatif lagi, sehingga banyak menghasilkan penemuan-penemuan penting di bidang ini. Al-Kharizmi, misalnya, dikatakan sebagai penemu angka nol atau sifr, sebuah kata yang ketika hijrah ke Eropa menciptakan kata cipher dan zero yang berarti nol. Tentu saja ini merupaka revolusi matematika yang besar, meski tanpa banyak diketahui, karena tidak dapat dibayangkan “matematika” tanpa angka nol.

Demikian juga para filsuf Muslim telah dengan jelas memperlihatkan sikap inklusif ini. Mereka telah menunjukkan sikap lapang dada dan confident  luar biasa terhadap pemikiran-pemikiran yang datang dari luar. Menyikapi para pengkritiknya yang lebih eksklusif tentang sumber kebenaran, al-Kindi (w.866) dengan elegan berkata, ”Kebenaran dari mana pun asalnya harus kita terima, karena tidak ada yang lebih dicintai oleh pencari kebenaran daripada kebenaran itu sendiri”. Al-Kindi sendiri telah mempelajari hampir semua cabang ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani dengan penuh percaya diri. Menurutnya ilmu bersifat komulatif dan akan mencapai tingkat yang setinggi ini kalau bukan karena sumbangan pendahulu kita. Sikap ini juga ditunjukkan oleh al-Amiri, dalam kitabnya al-Amad ‘ala al-Ab’ad , dikatakan bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani tidak bisa dipandang sebagai sama sekali asing dari tradisi kenabian Islam, karena beberapa tokoh mereka (seperti Hermes, Empedokles, dan Phytagoras) sangat akrab dengan warisan kenabian tersebut. Menurut al-Amiri, Hermes yang sangat dikagumi oleh orang Yunani tersebut tidak lain adalah Nabi Idris as, nabi ketiga setelah Adam dan Syits. Empledokles dikatakan sebagai murid yang telah banyak belajar hikmah dari Luqman al-Hakim yang hidup di Suriah zaman Nabi Daud as. Sedangkan Phytagoras dikatakan telah belajar metafisika dari sahabat-sahabat Nabi Sulaiman as yang dia temui di Mesir setelah diusir oleh Raja Babilonia dari Negara mereka.

Selain di bidang pengambilan sumber-sumber dari luar, sikap inklusif ini dapat dilihat dari cara-cara pendukung kebudayaan Islam (termasuk filsuf dan sufi) dalam memilih murid atau guru dan para penguasa dalam memilih pejabat tinggi negara. Dilaporkan bahwa Jalaluddin Rumi (w. 1273), seorang sufi dan penyair besar Persia memiliki murid bukan hanya dari kalangan Muslim, tetapi juga Yahudi, Kristen, bahkan Zoroaster. Mereka diperlakukan secara adil tanpa dipaksa untuk melakukan konversi agama. Dalam pandangan Rumi, Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin sehingga tidak ada salahnya sama sekali untuk menjadikan orang-orang non Muslim sebagai murid-muridnya. Sikap inklusif dalam memilih guru bisa dilihat dari guru-guru al-Farabi (w.950), seorang filsuf peripatetic Muslim yang dikenal sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles. Dikatakan bahwa ketika datang ke Baghdad pada dasawarsa ketiga abad IX M, al-Farabi belajar logika dan filsafat dari dua guru logika terkenal yaitu: Yohanna bin Haylan dan Bisyr Matta bin Yunus yang keduanya beragama Kristen. Jadi jelas disini bahwa perbedaan agama dari seorang guru atau murid tidak menjadi penghalang bagi terjadinya proses belajar mengajar antara mereka. Dengan kata lain mereka tidak menolak sebagai guru atau muridnya semata-mata atas dasar agama.     

vHumanisme (Egalitarianisme)

Yang dimaksud humanisme disini adalah cara pandang yang memperlakukan manusia semata-mata karena kemanusiaannya, tidak karena sebab yang lain di luar itu seperti ras, suku, kasta, warna kulit, kedudukan, kekayaan bahkan agama. Dengan demikian termasuk dalam humanism adalah sifat egaliter yang menilai semua manusia sama derajatnya.

Sejarah kebudayaan Islam sarat dengan contoh-contoh sifat humanis ini. Al-Hujwiri, seorang penulis mistik Islam dalam kitabnya Kasyfu al-Mahjub  menceritakan sikap humanis seorang nabi ketika membandingkan sikap keberagamaan Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad Saw. Dikatakan Nabi Ibrahim tidak akan makan kecuali mendapat seorang teman. Kadang dia harus menunggu satua atau dua jam untuk itu. Suatu hari ia harus menunggu lebih dari enam jam, ketika seseorang akhirnya lewat di hadapannya. Lalu, dipanggilnya orang tersebut untuk diajak makan. Namun sebelum makan, Nabi Ibrahim menanyakan tentang pekerjaannya. Ketika tahu jawaban orang tersebut adalah pembuat patung, serta merta orang itu diusirnya. Setelah orang itu pergi, datanglah teguran dari Tuhan berupa pertanyaan kepada Nabi Ibrahim, “mengapa engkau tidak rela memberikan sepotong roti kepadanya yang telah Aku layani selama 70 tahun.” Berbeda keadaannya, ketika al-Hujwiri mengisahkan sikap Nabi Muhammad. Dikatakan bahwa ketika seorang kepala suku datang kepadanya, secara spontan Nabi Muhammad melepas dan menghamparkan jubahnya untuk duduk sang kepala suku (padahal Nabi tahu ia bukanlah seorang Muslim). Dalam pada itu, Nabi Muhammad Saw berkata ”Hormatilah setiap kepala suku apapun agamanya.” Ini adalah contoh jelas dari pandangan humanis seorang Nabi Muhammad Saw yang memandang manusia bukan karena keturunan maupun agamanya, tetapi karena kemanusiaannya.   

vToleransi

Toleransi umat Islam barangkali dapat dilihat dari beberapa contoh di bawah ini. Para penguasa Muslim dalam waktu yang relative singkat telah menaklukkan beberapa wilayah sekitarnya seperti Mesir, Suriah, dan Persia. Ketika para penguasa Islam menaklukkan daerah-daerah tersebut, disana telah ada dan berkembang dengan pesat beberapa pusat ilmu pengetahuan. Namun mereka tidak mengganggu kegiatan-kegiatan ilmiah dan filosofis yang telah ada sebelum Islam datang. Beberapa pusat ilmu di kota-kota Suriah seperti Antioch, Harran, dan Edessa tetap berkembang ketika orang-orang Arab menaklukkan Suriah dan Iraq. Menurut penilaian Majid Fakhry, penaklukkan Arab secara keseluruhan tidak mencampuri pencarian akademis oleh sarjana-sarjana di Edessa, Nisibbis dan pusat-pusat ilmu di Timur dekat. Di pusat-pusat ilmu ini, kajian-kajian filosofis dan teologis tetap berjalan sebagaimana mestinya dan mereka menikmati kebebasan berpikir yang diberikan para penguasa Muslim.

Selanjutnya, komnitas non-Muslim seperti Kristen, Yahudi dan bahkan Zoroaster dapat hidup dan menjalankan ibadah mereka masing-masing dengan relative bebas di bawah kekuasaan para penguasa Muslim. Menurut Joel Kraemer minoritas religious non-Muslim dapat hidup bersama dengan baik di bawah kekuasaan para Buyid (yang berkuasa sekitar abad X) yang dipandang cukup toleran. Dikatakan bahwa di sebelah barat kota Baghdad pada abad itu terdapat 8 biara dan 6 gereja Kristen, sedang di sebelah timurnya terdapat 3 biara dan 5 gereja. Demikian juga komunitas Yahudi di Baghdad menikmati sikap toleran penguasa Buyid. Demikian juga keadaan orang-orang non-Muslim yang hidup di kota-kota besar lainnya. Karen Amstrong dalam bukunya Muhammad Sang Nabi, menunjukkan betapa orang-orang Kristen dan Yahudi telah menikmati kebebasan beragama dan dapat hidup tenang dalam menjalankan ibadah serta aktivitas sehari-hari mereka di bawah penguasa Muslim Andalusia terutama Cordoba. Hanya, ketika komunitas minoritas ini terutama kaum Kristen secara terang-terangan menghina agama Islam dan nabinya di depan umum kemudia mendapat hukuman yang keras dari penguasa Islam. Terlepas dari itu, kehidupan kaum minoritas di bawah kekuasaan mayoritas Mulim berjalan dengan relative bebas dan aman.    

vDemokrasi (kebebasan berpikir)

Menurut Abdulkarim Soroush, dalam bukunya Reason, Freedom, and Democracy in Islam, salah stu sifat yang tidak boleh ditinggalkan dalam demokrasi adalah kebebasan individu untuk mengemukakan pendapatnya, dengan kata lain harus ada kebebasan berpikir. Bagaimana kebebasan berpikir ini dilaksanakan oleh masyarakat kota-kota besar Islam dapat dilihat contohnya berikut ini.

Kebebasan menyampaikan kritik terhadap penguasa , dalam hal ini para perdana mentri , dapat dengan jelas dilihat dalam karya Abu Hayyan al-Tawhidi yang berjudul Akhlaq al-Waziryn, al-Tawhidi mengkritik karakter bahkan kadang administrasi dari dua wazir/perdana mentri Buyid, Ibn Amid dan Ibn Sa’dan. Ibn Amid dikatakan terlalu “pelit” dalam menggaji bawahannya, bahkan bawahan yang penting seperti Ibn Miskawaih (w.1010), seorang filsuf etik terkenal. Menurutnya, Miskawaih dibayar Ibn Amid dengan bayaran yang pas-pasan, yang tentunya tidak cocok dengan sifat seorang wazir yang seharusnya dermawan.

Contoh lain bisa dilihat dari teledialog antara al-Biruni (w.1031), seorang ensiklopedis sejati Muslim dengan seorang filsuf perpatetik Muslim yang paling terkenal Ibn Sina dalam bidang fisikanya menganut ajaran fisika Aristoteles yang dikenal sebagai “hyleomorfis” dimana segala sesuatu dipercayai sebagai terdiri dari materi dan bentuk. Al-Biruni, yang merasa tidak sepakat dengan pendapat tersebut di atas, kemudian mengirim surat melalui seorang utusan untuk mempertanyakannya pada Ibn Sina dengan menunjukkan keberatannya. Ibn Sina yang telah mengerti keberatan al-Biruni, kemudian secara langsung menjawab keberatan tersebut dengan sebuah risalah yang membahas masalah tersebut. Demikianlah terjadi dialog ilmiah melalui surat dari dua pemikir raksasa Muslim abad IX Masehi ini.

Tentu saja masih banyak contoh lain tentang bagaimana para pendukung kebudayaan Islam telah mempraktikkan cita-cita masyarakat madani. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bisa mengambil manfaat dari apa yang mereka lakukan dan contohkan sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan kekinian di dalam masyarakat perkotaan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makasar, Denpasar dan yang lainnya. Bahkan bisa juga diterapkan di berbagai pelosok tanah air dalam suasana yang inklusif, toleran, dan cosmopolitan.


[*]Guru besar Filsafat Agama Program Pascasarjana UIN Jakarta, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta dan Direktur Center for Islamic Philosophical Studies.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s