BELAJAR DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORISTIK

  1. STUDI KASUS OLEH: TAZKIYAH B.
  2. A. Fenomena

Belajar sejatinya adalah proses pengembangan diri oleh manusia baik terhadap faktor internal maupun eksternal. Dalam proses pembelajaran kita banyak menemukan beberapa perilaku anak sebagai konsekuensi dari proses belajar. Maka dalam hal ini ketrampilan mengajar dan mendidik anak perlu melibatkan pemahaman mengenai proses pembelajaran pada manusia, motivasi, stimulus dan respon, tren perkembangan, dan sebagainya.

Bahkan proses mengajar yang efektif melibatkan kemampuan menentukan “posisi” siswa terkait level pembelajaran dan perkembangannya. Disamping itu memahami perilaku anak di kelas menurut psikologi pendidikan, membutuhkan pendekatan behavioral yang mana memusatkan perhatian pada stimulus-stimulus lingkungan yang menyebabkan perubahan perilaku seseorang.

Sekilas fenomena yang akan kami angkat dalam tulisan ini mengenai keadaan siswa yang tidak mau masuk sekolah lantaran ia trauma atas hukuman yang diberlakukan oleh gurunya. Peristiwa yang dialami oleh Dwi Agung Cahyono, siswa kelas IX D, SMPN 6 kota Probolinggo pertengahan bulan Februari 2012 lalu. Dwi Agung mengaku dihukum gurunya dengan mengunyah kapur tulis. Alhasil, sebagian dari kapur tulis tersebut tertelan ke perutnya, sehingga perutnya mulas setelah kejadian tersebut ia terpaksa harus masuk rumah sakit. Hukuman tersebut diberikan karena Dwi Agung tidak mengerjakan PR (pekerjaan rumah) mata pelajaran Matematika, ketika ditanya oleh gurunya alasan kenapa ia tidak mengerjakan PR jawabannya adalah ia kurang memahami mapel Matematika tersebut di kelas. Akibat kejadian itu, Dwi menjadi trauma dan enggan masuk sekolah, bahkan ia takut masuk sekolah.[1]

Dari peristiwa diatas dapat kita bayangkan apabila kejadian tersebut menimpa pada anak kita atau pada diri kita sendiri, apa yang dapat terjadi?. Sikap guru tersebut dianggap sangat tidak bijaksana lantaran memberikan hukuman yang sangat tidak mendidik bahkan dianggap tindak kekerasan. Dampak dari hukuman tersebut sangatlah mendasar diantaranya siswa menjadi trauma, menganggap sekolah adalah tempat yang menakutkan. Di samping itu, metode hukuman semacam ini seringkali tidak efektif dan hasilnya justru kebalikan dari yang diharapkan, bukannya menjadi pembelajaran bagi siswa namun sebagai ancaman.

Guru perlu memikirkan apa yang sebenarnya mereka “ajarkan” pada saat mereka melakukan kekerasan di kelas. Banyak siswa yang mulai bertindak agresif dan menggunakan kekerasan untuk memecahkan masalah karena mereka melihat dari apa yang dilakukan gurunya. Siswa bahkan berlaku kasar terhadap siswa yang lain. Kekerasan terhadap teman sebaya juga termasuk penyebab utama DO dari sekolah dasar di Indonesia.[2]  Menggunakan kekerasan untuk memecahkan masalah bukanlah kecakapan hidup (life skill) yang efektif. Menurut Depdiknas, beberapa kecakapan hidup yang harus diajarkan guru-guru di Indonesia di antaranya adalah untuk menjadi manusia yang taqwa dan bermoral, mampu mengatur emosinya, disiplin serta memiliki keterampilan berkomunikasi dan memecahkan masalah. Menggunakan kekerasan tidak termasuk di dalamnya.

Fenomena lain juga ditemukan pada Anton, siswa kelas II KMI di sebuah pesantren, karena ia sering ditemukan tidak menggunakan bahasa resmi (Arab dan Inggris) maka ia sering mendapatkan hukuman pukul tangan dengan menggunakan penggaris besi. Jika ia ketahuan 2 kali tidak berbahasa resmi maka ia mendapatkan 6 kali pukulan, tentunya kita bisa membayangkan apabila ia beberapa kali ketahuan maka beberapa kali itu juga ia dipukul. Akhirnya karena ia takut dipukul atau mungkin sering merasa malu dan kesakitan, mengakibatkan ia menjadi pendiam dan malas untuk bicara, bahkan karena takutnya ia dia banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan temannnya dengan menulis tanpa bicara.

Dari fenomena ini dapat kita pahami bahwa anton sebenarnya bukan tidak mau bicara atau tidak bisa bicara, tapi bisa jadi ia tidak mau mencoba dan takut salah. Dengan hukuman pukulan seperti diatas mengakibatkan ia sering mendapatkan malu dan merasa kesakitan. Kita bisa bayangkan berapa kali  ia harus mendapatkan pukulan jika ia banyak berbicara tanpa menggunakan bahasa resmi.

  1. B. Temuan Penelitian

Berdasarkan hasil sebuah penelitian lapangan menunjukkan bahwa hukuman fisik dalam bentuk apapun dan dalam porsi apapun pasti tidak mendidik. Alasan yang pertama adalah hukuman itu tidak bermakna (meaningless). Jelas hukuman pasti tidak pernah memberi pengertian atau penjelasan. Coba kalau ditanya, apa kira-kira maknanya ketika si anak disuruh mengunyah kapur ketika si anak tidak membawa pekerjaan rumahnya. Apakah guru atau siswa bisa menjelaskan apa makna dan manfaat dar hukuman tersebut?. Tentu tidak ada penjelasan untuk itu. Selain tidak bermakna, hukuman juga tidak logis. Hukuman tidak pernah menjelaskan hubungan sebab akibat. Hukuman hanyalah jawaban mendikte tanpa ada keterkaitan secara logis. Coba kita lihat contoh lain. Ketika seorang santri tidak menggunakan bahasa resmi, apakah ada hubungan sebab akibat atau logika ketika si siswa yang melanggar tadi dipukul tanggannya menggunakan penggarais besi? Tentu tidak akan ada penjelasan hubungan sebab akibat antara tidak menggunakan bahsa resmi dengan pukulan tangan.

Hasil penelitian Suyanto dan Sanituti (2002:32), bahwa dampak fisik adalah semua kerusakan yang diakibatkan oleh adanya tindakan kekerasan yang dilakukan pada bagian fisik-biologis anak. Biasanya, kekerasan fisik yang seperti ini langsung terlihat nyata oleh panca indra. Adapun dampak psiskis adalah dampak yang ditimbulkan dari tindakan kekerasan terhadap anak yang berakibat pada gangguan jiwa; rasa takut, minder, malu, over acting dan lain sebagainya. Sedangkan secara jangka panjang, akan berakibat lahirnya pelaku-pelaku baru tindak kekerasan. Diperkirakan para ustadz yang juga jebolan pesantren, belajar tindak kekerasan dari pengalaman masa lalu mereka. Dampak lain dari tindak kekerasan atau hukuman kepada para peserta didik adalah tertanamnya jiwa yang keras dan ingin menyelesaikan permasalahan hidupnya dengan kekerasan.[3]

Menurut penelitian di AS hukuman fisik atas murid tidak boleh dianjurkan dalam situasi apapun. Hukuman ini bisa bersifat abusif dan memperbesar semua problem yang diasosiasikan dengan hukuman.[4]  Bahkan satu studi baru-baru ini menemukan bahwa ketika orang tua menggunakan tamparan untuk mendisiplinkan anak saat mereka masih berumur 4-5 tahun, tamparan itu malah meningkatkan perilaku bermasalah.[5] Tim dari Universitas Plymouth mengatakan, stres yang disebabkan dari pukulan dan teriakan pada saat anak masih kecil bisa menyebabkan perubahan biologis yang merupakan penyakit predisposisi.
Penelitian lain juga menunjukkan, trauma yang parah pada anak-anak seperti kekerasan fisik atau seksual bisa meningkatkan risiko penyakit kronis di kemudian hari.[6]

Berdasarkan dari beberapa temuan penelitian, penulis mengambil kesimpulan bahwa dampak dari hukuman kekerasan sangat beragam. Rasa ketakutan yang terus membayangi adalah dampak dari kekerasan yang diterima. Mungkin jika itu sebatas kekerasan fisik masih dapat disembuhkan seiring waktu, namun jika itu masalah psikis maka trauma yang ditimbulkannya tak akan bias dihilangkan seumur hidup.

  1. C. Keadaan Ideal

Pendidikan sebagai proses mengubah tingkah laku melalui pengajaran dan pelatihan. Dengan pendekatan psikologi membantu dalam proses pendidikan dalam setiap diri individu. Aliran behavioristik menjelaskan alternatif terjadinya proses belajar dalam diri siswa.

Analisis tentang teori behavioristik, kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pembelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek.

Menurut Edwin Guthrie, hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.[7] Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pembelajar untuk berpikir dan berimajinasi. Ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

  1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
  2. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.

Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pembelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif.

Dalam UU Sisdiknas No. 23 Tahun 2003[8], jelas dituliskan bahwa pendidikan itu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yan diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk memenuhi standar UU pendidikan tersebut maka selayaknya proses pembelajaran disesuaikan dengan standar yang terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran yang sempurna. Punnishment diberikan kepada peserta didik jika mereka melakukan hal – hal yang bertentangan dengan nilai – nilai yang diharapkan. Karena bersifat negatif, maka punnishment ini diwujudkan dalam bentuk hukuman atau sanksi yang harus dilakukan peserta didik sebagai konsekuensi perbuatannya.

Diakui atau tidak, peranan punnishment dalam pengkondisian kedisiplinan peserta didik. Namun bentuk punishment tersebut harus efektif dan mampu mengubah perilaku siswa, bukan bentuk punishment yang tidak mendidik seperti hukuman fisik, hukuman psikologis dan sebagainya. Bentuk hukuman fisik dan psikis dipandang dan terbukti berdampak negatif terhadap diri siswa,   kelangsungan proses belajar mengajar dan menganggu prestasi yang akan diperoleh siswa dari sekolah.

  1. D. Identifikasi Masalah

Dalam pandangan behavioris tentang belajar, kita banyak mempelajari perilaku dari peserta didik. Dalam banyak hal pula, kita mengembangkan perilaku-perilaku karena lingkungan mendukung kita melakukan perilaku tersebut. Behaviorisme sendiri memusatkan perhatian pada bagaimana stimulus-stimulus lingkungan menyebabkan perubahan perilaku orang.

Ada beberapa identifikasi masalah yang terkait dari fenomena yang kami angkat dalam tulisan ini berhubungan dengan perilaku-perilaku yang tidak produktif, ancaman hukuman yang tidak efektif dari guru, bahkan strategi penerapan dalam prinsip behavioris untuk menangani perilaku yang sulit di kelas. Diantaranya :

  1. Strategi yang dapat digunakan untuk membantu siswa memperoleh perilaku akademik dan sosial sangat tidak produktif
  2. Kondisi hukuman yang terkait dianggap tidak efektif sehingga terkesan guru tidak mampu mengambil tindakan terhadap perilaku yang tidak produktif.
  3. Pengaruh dampak terhadap hukuman yang dianggap tidak mendidik sangat mengganggu proses belajar mengajar.
  4. Tidak adanya penerapan prinsip behavioris untuk menangani perilaku yang sulit di kelas terkait dengan fenomena yang ada.
  5. E.     Rumusan Masalah

Dari beberapa identifikasi masalah diatas maka penulis merumuskan rumusan masalahnya sebagai berikut:

  1. Bagaimana menghadapi tindakan guru/pendidik yang memberikan hukuman yang melewati batas ?
  2. Selain hukuman apa alternatif yang efektif untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan yang sesuai dengan teori belajar behaviorisme?
  1. F.     Landasan Teori
    1. 1. Mengurangi dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan

Untuk mengurangi dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, kaum behavioris menawarkan beberapa strategi yang mungkin yaitu:

  1. Ekstinksi

Yaitu memastikan sebuah perilaku yang tidak sesuai tidak pernah diberi penguatan. 2 point tentang ekstinksi dalam kondisioning operant:  pertama, begitu penguatan berhenti respon yang sebelumnya diberikan penguatan tidak selalu berkurang dengan segera. Terkadang meningkat untuk waktu yang tidak lama, maka diperlukan kesabaran dan hati-hati. Kedua, ditemukan situasi dimana sebuah respon tidak pernah menurun ketika dihilangkan suatu penguat. Jika ekstinksi tidak terjadi kemungkinannya adalah karena belum mampu menghilangkan semua penguat terhadap respon tersebut.

  1. Pemberian isyarat (cueing)

Memberikan isyarat mengenai perilaku yang tidak diinginkan dengan bahasa tubuh (kontak mata, mengangkat alis, atau mengernyitkan dahi) agar siswa tahu bahwa perilaku mereka tidak diinginkan. Jika bahasa tubuh tidak berpengaruh terhadap siswa yang berperilaku buruk maka dengan kedekatan fisik. Bergerak mendekat ke arah siswa tersebut dan berdiri disana sampai perilaku buruknya berhenti. Apabila cara-cara halus dan samar terkadang tidak mempan, maka perlu lebih eksplisit yaitu dengan isyarat verbal yang singkat seperti menyebutkan nama siswa yang berperilaku tidak sesuai dan mengingatkannya.

  1. Penguatan perilaku yang tidak sesuai

Untuk mengurangi frekuensi perilaku yang tidak produktif hanya dengan memberikan penguatan pada perilaku alternatif. Bila usaha-usaha menghilangkan perilaku yang tidak sesuai atau memberikan isyarat gagal, penguatan terhadap satu atau lebih perilaku yang bertentangan dengan perilaku yang bermasalah seringkali efektif.  Seperti perilaku mengatasi kelalaian dengan memberikan penguatan kepada siswa jika mereka ingat melakukan apa yang harus mereka lakukan, perilaku tidak mengerjakan tugas dengan memberikan penguatan kepada perilaku mengerjakan tugas, dan berkata-kata kasar dengan memberikan penguatan pada pernyataan-pernyataan yang prososial.

  1. Hukuman

Hal ini diberikan terhadap perilaku tidak sesuai yang membutuhkan penanganan segera dimana mengganggu pembelajaran di kelas, mencerminkan rasa tidak hormat, dan menganggu keselamatan orang lain. Hukuman (punishment) adalah suatu konsekuensi yang menurunkan frekuensi respon yang mengikutinya. Konsekuensi berupa hukuman terdiri dari 2 kategori yaitu: hukuman penghadiran dan hukuman penghilangan. Hukuman penghadiran berupa hukuman menghadirkan suatu stimulus baru, barangkali sesuatu yang tidak diinginkan dan disenangi pembelajar seperti omelan dan dahi mengernyit. Hukuman penghilangan adalah hukuman berupa penghilangan stimulus atau keadaan yang ada, barangkali stimulus yang disenangi oleh siswa seperti kehilangan previlese, dibiarkan sendiri (dibatasi untuk berpartisipasi kegiatan tertentu), denda dan penalti.

Pada awalnya aliran behavioris yakin bahwa hukuman merupakan sarana yang tidak efektif untuk mengubah perilaku dan dianggap dapat menekan respon tanpa mampu menghilangkannya, namun telah ditemukan bahwa beberapa bentuk hukuman dapat sangat efektif mengurangi perilaku bermasalah dan berguna bagi siswa yang kurang memiliki motivasi untuk mengubah perilakunya.

Bentuk hukuman yang efektif, seharusnya dengan menggunakan bentuk hukuman yang ringan di kelas. Hukuman keras identik dengan hukumna yang membekas dalam diri siswa sehingga merusak rasa kepantasan dirinya dan menimbulkan efek samping seperti permusuhan, kebencian, dan suka membolos. Peneliti dan pendidik mengidentifikasi bentuk hukuman ringan yang efektif mengurangi perilaku bermasalah yaitu:

  1. Teguran verbal (scolding), umumnya teguran lebih efektif ketika disampaikan secara langsung, singkat, dan tidak emosional. Teguran juga memiliki efek yang bagus ketika disampaikan secara halus dan tidak diketahui siswa-siswa lain dan sedapat mungkin disampaikan secara privat.
  2. Biaya respon (response cost), merupakan contoh hukum yan penghilangan. Dan paling mungkin efektif ketika dikombinasikan dengan penguatan terhadap perilaku yang sesuai dan ketika pembelajar yang membuat beberapa langkah yang salah dalam keseluruhan pola perilaku yang diinginkan kehilangan hanya sedikitdari apa yang telah mereka pelajari.
  3. Konsekuensi logis (logical consequences), yaitu suatu akibat yang terjadi secara alamiah setelah siswa berperilaku  tidak sesuai. Dan hal ini merupakan hukuman yang cocok dengan tindak kejahatan.
  4. Time out, siswa diberikan hukuman time out ditempatkan dalam situasi sepi dan membosankan (tetapi tidak menakutkan) dimana mereka tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-temannya dan mendapatkan penguatan. Waktu time out biasanya singkat sesuai dengan kadar usia siswa, tetapi siswatidak dilepas sampai perilakunya yang tidak sesuai berhenti. Dan perlu diingat bahwa time out cenderung efektif hanya bila aktifitas-aktifitas yang berlangsung secara berkesinambungan di kelas merupakan sumber kesenangan dan penguatan bagi siswa, karena di suatu waktu time out juga mampu meningkatkan perilaku yang tidak diinginkan.
  5. Skors di sekolah (in school suspension), berarti menempatkan siswa dalam sebuah ruangan senyap dan membosankan di salah satu gedung sekolah, juga mengerjakan tugas-tugas kelas sebagaimana siswa lain. Bentuk hukuman ini seringkali berlangsung selama satu hari sekolah atau lebih dan melibatkan pengawasan orang dewasa. Hukuman ini diangga efektif mengurangi perilaku tidak sesuai yang kronis.

Seyogyanya pendidik menggunakan hukuman yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. jika hukuman tidak mendatangkan efek berupa perubahan maka perlu mencari alternatif lain.

Bentuk hukuman yang tidak efektif, beberapa bentuk hukuman yang tidak direkomendasikan antara lain:

  1. Hukuman fisik, penggunaan hukuman fisik di kelas sangat bertentangan dengan undang-undang. Sekalipun hukuman fisik yang ringan seperti memukul, atau menampar dengan penggaris karena dapat menimbulkan efek seperti mebenci guru, tidak perhatian terhadap tugas, berbohong, vandalisme, dan membolos. Hukuman fisik yang keras biasanya berdampak pada gangguan fisik jangka panjang, masalah psikologis, atau keduanya.
  2. Hukuman psikologis, yaitu konsekuensi yang secara serius mengancam rasa kepantasan diri siswa (self worth) seperti mankut-nakuti, pernyataan yang membuat malu, penghinaan di depan umum. Dengan hukuman psikologis dapat menurunkan ekspetasi siswa akan performanya di waktu selanjutnya dan motivasi mereka untuk belajar dan berprestasi.
  3. Tugas kelas ekstra, yaitu menyuruh siswa mengerjakan tugas kelas ekstra atau PR melampaui yang disyaratkan bagi siswa lain karena dengan hal ini mengkomunikasikan pesan bahwa pekerjaan sekolah itu tidak menyenangkan.
  4. Skors tidak boleh sekolah, hal ini dianggap tidak efektif dalam mengubah perilaku siswa. pertama, karena diskors dari sekolah bisa jadi menjadi keinginan siswa sehingga perilakunya yang tidak sesuai diberi penguatan dengan hukuman. Kedua, banyak siswa yang mengalami masalah perilaku kronis enderung menunjukkan hasil buruk dalam tugas sekolah, skor menyebabkan hilangnya waktu belajar mengajar yang bernilai dan menganggu kedekatan psikologis siswa dengan sekolah.

Dalam beberapa situasi hukuman tidak diperbolehkan istirahat merupakan konsekuensi logis bagi siswa yang gagal menyelesaikan tugas sekolah selama jam kelas reguler karena perilaku menghindar dari tugas. Anjuran yang paling baik adalah mencabut privilese untuk istirahat sesekali saja dan memonitor efektivitas konsekuensi tersebut.

Menggunakan hukuman secara manusiawi, bentuk hukuman fisik dan penghinaan di depan umum dianggap sebagai hukuman tidak manusiawi. Apabila hukuman ringan dijalankan secara bijaksana maka bentuk hukuman tersebut dapat membuat perilaku kontraproduktif berkurang cepat dan efektif. Beberapa petunjuk menggunakan hukuman secara efektif dan manusiawi antara lain:

  1. Pilihlah konsekuensi yang benar-benar menghukum tanpa terlalu keras. Hukuman keras yang tidak perlu adalah yang tidak sebanding dengan kesalahan. Maksud utama menjalankan hukuman adalah mengkomunikasikan bahwa batas-batas perilaku yang diterima telah dilanggar, bukan melakukan balas dendam.
  2. Beritahukan sebenarnya kepada para siswa bahwa perilaku tertentu akan dihukum, dan jelaskan bagaiman perilaku itu akan dihukum. Ketika siswa diberitahukan tentang kontingensi respon yaitu hukuman di awal, mereka akan cenderung kurang terlibat dalam perilaku yang dilarang, dan cenderung tidak kaget bila hukuman terpaksa dijalankan.
  3. Laksanakan konsekuensi yang sudah ditentukan sebelumnya. Satu peringatan dimaklumi, tetapi peringatan yang berulang-ulang tidak dianjurkan.
  4. Jalankan hukuman secara privat, khususnya ketika siswa-siswa lain tidak menyadari adanya kesalahan.
  5. Jalankan hukuman dalam suasana hangat dan mendukung.
  6. Ajarkan dan berikan penguatan pada perilaku alternatif yang diinginkan secara bersamaan. Dengan memberikan penguatan pada respon yang diinginkan, kita memberikan siswa pesan positif dan optimistikyaitu perilaku itu dapat dan akan diperbaiki.
  7. Monitor keefektivan hukuman.
  8. 2.      Membedakan antara penguatan positif, penguatan negatif, hukuman

Konsekuensi

Efek

Penguatan Positif Respon meningkat ketika stimulus baru (agaknya stimulus yang diinginkan pembelajar) dihadirkan.
Penguatan Negatif Respon meningkat ketika suatu stimulus yang sebelumnya ada (agaknya stimulus yang tidak diinginkan pembelajar) dihilangkan.
Hukuman Penghadiran Respon berkurang ketika suatu stimulus baru (agaknya stimulus yang tidak diiginkan pembelajar) dihadirkan.
Hukuman Penghilangan Respon berkurang ketika suatu stimulus yang sebelumnya ada ( agaknya stimulus yang diinginkan pembelajar) dihilangkan.

 

  1. 3.      Menyikapi perilaku yang sulit di kelas

Ada 3 pendekatan terkait secara khusus untuk perilaku yang menantang yaitu:

  1. Penerapan analisis perilaku atau dikenal dengan istilah modifikasi perilaku atau terapi perilaku. APT didasarkan pada a) masalah perilaku yang disebabkan kondisi lingkungan masa lalu dan sekarang, b) memodifikasi lingkungan siswa saat ini akan mendorong respon yang lebih produktif. Dalam hal ini terdapat beberapa strategi yaitu: a) deskrisi perilaku saat ini dan perilaku akhir yang diinginkan dalam istilah yang dapat diukur, b) identifikasi satu atau lebih penguat yang lebih efektif, c) mengembangkan intervensi spesifik yang bisa melibatkan penguatan terhadap perilaku yang diinginkan, pembentukan, ekstinksi, hukuman, dll, d) mengukur frekuensi perilaku yang diinginkan dan tidak diinginkan sebelum dan setelah mendapat penanganan, e) memonitor program penanganan demi keefektifannya dengan mengamati bagaimana perilaku berubah seiring dengan waktu dan memodifikasinya, f) mengambil langkah untuk mendorong generalisasi terhadap perilaku yang baru diperoleh, g) secara bertahap menghapuskan penanganan setelah perilaku yang diinginkan diperoleh.

Menurut beberapa penelitian, APT ini dianggap dapat membawa perbaikan yang signifikan dalam performa akademis dan perilaku di kelas. Dan ketika memberi penguatan pada perilaku yang sesuai di kelas (perhatian, interaksi sosial) maka perilaku yang tidak sesuai menurun.

  1. Analisis fungsional dan dukungan perilaku positif, yaitu merekomendasikan dan mengumpulkan data mengenai kondisi spesifik (stimulus anteseden) yang membuat siswa cenderung berperilaku tidak sesuai dan juga konsekuensi yang mengikuti perilaku mereka.

Anteseden        perilaku         konsekuensi

Dukungan perilaku positif (positive behavioral support/PBS) mendorong proses lebih jauh. Yaitu dengan mengembangkan dan melaksanakan rencana untuk mendorong perilaku yang sesuai. Ada beberapa strategi yaitu: a) mengajarkan perilaku yang dapat menggantikan perilaku tidak sesuai, b) memodifikasi lingkungan kelas untuk meminimalisasi kondisi yang memicu perilaku tidak sesuai, c) membangun kebiasaan meminimalisasi kecemasan terhadap siswa, d) memberikan kesempatan membuat pilihan, e) membuat penyesuaian dalam kurikulum dan PBM untuk memaksimalkan kemungkinan kesuksesan akademis, f) memonitor frekuensi munculnya perilaku untuk melihat hasil. Dengan dukungan perilaku positif maka mencerminkan pula bentuk motifasi melalui beberapa strategi diatas.

  1. Keragaman dalam perilaku siswa dan reaksi siwa terhadap berbagai konsekuensi. Dalam berbagai fenomena siswa mengalami keragaman yang menjadi alasan utama adanya pola perilaku mereka yang berbeda. Ada siswa yang telah diberi penguatan atau hukuman dari lingkungan keluarga, ada yang diberi penguatan menyelesaikan tugas dengan cepat meski tidak rapi, dan yang lainnya keragaman dalam respon siswa juga disebabkan perilaku yang berbeda yang didorong atau tidak oleh masing-masing budaya yang dianut siswa.
  2. 4.      Kekuatan dan kelemahan pendekatan perilaku

Para psikolog memiliki kesan yang beragam tentang peran tekhnik behavioris dalam mengatasi masalah akademis. Diantara kekuatan dan kelemahan pendekatan perilaku dalam tekhnik behavioris antara lain:

  1. Usaha-usaha mengubah perilaku mengabaikan faktor-faktor kognitif yang potensial mengganggu proses belajar.
  2. Penguatan diberikan karena menyelesaikan tugas-tugas akademis bisa mendorong siswa untuk melakukannya lebih cepat alih-alih dengan bagus
  3. Penguatan ekstrinsik terhadap sebuah aktivitas yang dianggap siswa sudah menguatkan secara intrinsik malah dapat mengurangi kesenangan siswa terhadap aktivitas tersebut.

Maka dapat dipahami banyak hal tentang proses belajar dan perilaku manusia dengan melihat prinsip stimulus-respon. Respon-respon tersebut pada gilirannya bisa membawa perubahan dalam lingkungan pembelajar, misalnya menghasilkan penguatan atau hukuman.[9]

  1. G. Analisis

Jika kita tinjau dari teori behaviorisme makna dari hukuman yaitu merupakan konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. . Pendekatan behavioral menekankan arti penting bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Pendekatan behavioris yang sesuai dengan kasus ini adalah pengkondisian operan yang merupakan bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam kemungkinan perilaku itu akan diulangi.

Melihat fenomena yang ada yaitu trauma karena hukuman guru adalah ketidaksiapan seorang anak menghadapi suatu kejadian. Dapat dikarenakan hukuman datangnya tiba-tiba dan secara kualitas atau kuantitas. Beberapa tanda bila anak mengalami trauma di sekolah adalah menolak sekolah dengan segala alasan yang tidak dapat dijelaskan. Seperti malas bangun pagi, atau bangun pagi dengan rewel, tidak segar, dan ada juga yang sering mimpi buruk yang tidak dapat ia jelaskan alur cerita mimpinya, menolak berpakaian sekolah, makan sarapannya dengan lambat, mual dan atau demam, pusing dan sakit kepala di pagi hari menjelang sekolah.

Masalah yang terjadi pada Dwi Cahyo dan Anton merupakan bentuk dari pemberian punishment yang tidak mendidik bahkan terkesan salah arah dari pola pendidikan yang sesungguhnya. Jika kita tarik pemahaman dari teori behavioristik, hukuman dianggap sebagai konsekuensi yang menurunkan frekuensi respon yang mengikutinya, dimana dengan pemberian hukuman mampu menurunkan frekuensi dari respon negatif terhadap perilaku.[10] Bahkan hukuman tersebut harus diberikan secara wajar (manusiawi) dan efektif, bukan malah menurunkan/menghilangkan motivasi siswa untuk belajar dan berprestasi di sekolah. Dan perlu diketahui hukuman diberikan dengan dasar untuk menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan oleh peserta didik, bukan sebagai bentuk balas dendam. Hukuman berarti sebagai sarana mengubah perilaku bermasalah dan harus diterapkan dengan bijaksana.[11]

Bisa jadi bentuk kasus yang terjadi pada Dwi dan Anton merupakan stimulus dari respon yang tidak diinginkan. Seharusnya konsekuensi yang diberikan oleh guru/pendidik merupakan konsekuensi logis dan sesuai dengan kesalahannya. Menghukum anak dengan mengunyah kapur karena tidak mengerjakan tugas dan memukul dengan penggaris karena tidak menggunakan bahasa resmi merupakan tidakan yang tidak logis, tidak sesuai, bahkan tidak ada hubungan terkait antara hukuman dengan proses penurunan frekuensi perilaku. Yang terjadi justru akibat dari hukuman fisik dan psikis anak maka keduanya menjadi trauma, takut dan menganggap bahwa sekolah merupakan hal yang tidak menyenangkan.

Dari kasus yang terjadi perlu kita baca bahwa tindakan guru/pendidik tersebut tidak mengurangi respon dan tidak mencapai tujuan pemberian punishment yang seharusnya. Aktivitas ini menggambarkan guru yang menggunakan kekerasan terhadap siswa dengan beberapa alasan, namun alasan utamanya adalah untuk “memotivasi” siswa untuk melakukan sesuatu misalnya untuk belajar atau mengikuti aturan sekolah atau untuk berperilaku tertentu. Namun demikian, tindakan ini juga memperlihatkan bahwa penggunaan paksaan atau ancaman tidak efektif untuk memotivasi siswa, bahkan bisa memiliki akibat yang bertolak belakang dari tujuan. Siswa justru tidak termotivasi, takut kepada guru, tidak hormat pada yang lebih tua, menurunkan harga diri dan martabat serta mengarah pada bolos dan akhirnya putus sekolah. Departemen Pendidikan Nasional menggarisbawahi bahwa kekerasan oleh guru merupakan penyebab utama putus sekolah sejak tingkat dasar.

  1. H. Solusi

Melihat fenomena yang terjadi diatas maka alternatif solusi yang dapat diambil antara lain :

  1. Guru/pendidik hendaknya menganalisa kembali perilaku anak ang menyebabkan pada pelanggaran disiplin, dan stimulus tertentu yang mengakibatkan pada respon yang tidak sesuai. Setelah itu disikapi dengan pemberian punishment yang sesuai dengan kesalahan dan karakter siswa. Sebagai pendidik dan guru yang diharapkan menjadi suri tauladan dan wakil figur orang tua maka hendaknya benar-benar memperhatikan konteks pola pendidikan dan pembelajaran seharusnya yang mana bertujuan mengubah perilaku dan sikap seseorang.
  2. Memperhatikan konsekuensi logis punishment yang diberikan kepada siswa, menggunakan hukuman secara manusiawi, dan melaksanakan punishment dengan bijaksana dan adil, memonitor keefektifan punishment.

Daripada diberikan konsekuensi berupa punishment, lebih baik guru tersebut memberikan reinforcement. Karena dengan adanya punishment tadi si anak menjadi trauma yang berdampak anak tidak mau sekolah lagi. Reinforcement merupakan alternatif lain dari punishment menurut teori behavioristik yaitu bisa dengan penerapan analisis perilaku, memberikan pengutan pada perilaku yang tidak sesuai, mendorong dan memberi penguatan terhadap perilaku yang berlawanan dengan perilaku yang tidak diinginkan.


[2] Kekerasan kelompok sebaya adalah salah satu penyebab kunsi kasus DO sebagaimana dinyatakan oleh siswa yang disurvei dalam penelitian DBE3.

[4] John W Santrock, Psikologi Pendidikan (Jakarta:Kencana, 2011), 283.

[5] Mcloyd,V.C.& Smith, “Physical discipline and behavior problems in African American, European American, and Hispanic Children: Emotional support as a moderator”, Journal of Marriage and Family: 64, 40-53.

[6] Laporan dari Playmouth itu diterbitkan dalam Behavioural Medicine seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (14/11/2012).

[7 Robert E. Slavin, Educational Phsycology (United States of Amerika, 2006), VIII edition, 145.

[8] Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003.

[9] Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Erlangga, 2008), Cet-6, 451-468.

[10] Ormrod, Psikologi Pendidikan, 454-455.

[11] Muhammad Yasin, Psikologi Perkembangan ( Kediri: STAIN Press, 2009), 193.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s