KESEIMBANGAN IBADAH

Ibadah tidak sebatas menyembah Allah SWT saja. Tapi secara umum, ibadah dikategorikan menjadi 2 macam yaitu “hablun min annas dan hablun min Allah” dalam artian ibadah dalam interaksi sosial dan ibadah langsung kepada Allah. Ibadah yang berkaitan dengan interaksi sosial yaitu erat kaitannya dengan kepentingan sosial seperti amar ma’ruf nahi munkar.

Tidak sedikit orang yang salah memaknai ibadah. Mereka menganggap ibadah hanyalah sebatas acara ritual, misalnya shalat, berdzikir di masjid atau yang lainnya. Karena anggapan yang tidak benar itu, sebagian orang cenderung melupakan urusan duniawi sama sekali. Akibatnya, kewajiban sosial (terhadap keluarga dan orang lain) terabaikan. Sehingga mereka menjadi tersisihkan dalam kelompok sosial. Kehadirannya tidak bermanfaat, tetapi justru menambah beban disebabkan kemalasannya dalam berikhtiar. Sementara itu, di sisi lain ada orang yang terlalu semangat mengejar kekayaan sehingga siang malam membanting tulang. Seperti tak ada waktu untuk menghadap Allah. Ini juga tidak benar. Ketidakseimbangan membuat rezki tidak barokah, membuat hidup tidak nyaman dan tidak sejahtera.

Ibadah harus balance. Begitu juga hidup harus seimbang antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, antara kepentingan terhadap manusia dan kepentingan terhadap Allah SWT. Karenanya ibadah yang bersifat khusus ( berhubungan dengan Allah) dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ibadah yang berkenaan dengan interaksi sosialpun demikian, harus sungguh-sungguh. Bersungguh-sungguhlah dalam beribadah, terutama mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebab ibadah yang ikhlas dan serius dapat memudahkan jalan mendapatkan rezki dunia dan ukhrawi.

Bagaimana ibadah dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh??? Yaitu jika kita melatih hati agar memiliki rasa takut dan rasa harap kepada Allah SWT. Maka rasa takut ini harus dipegang teguh, dan terealisasikan dalam bentuk kepatuhan. Jika rasa takut ini tidak teguh dalam diri kita, maka kita akan dipermainkan oleh hawa nafsu dan cenderung malas menjalankan ibadah. Jika rasa malas ini mengalahkan nurani, maka kita senantiasa digiring oleh hawa nafsu agar menjauhi Allah SWT. Naudzubillahmindzalik!!

Dampak positif dari rasa takut kepada Allah inilah yang senantiasa mengarahkan kita kepada kepatuhan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita akan berusaha menjaga diri agar tidak berbuat maksiat. Dengan demikian, akhlaq mulia akan menghiasi diri kita. Apabila kita telah memiliki akhlaq mulia, semakin mudahlah membangun akses dan koneksi dalam rangka menjemput rezki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s