MEMAKNAI HIJRAH

Diantara cara merenungkan etos dinamis dalam Islam dan reformasi karakter sosial bangsa ini,  adalah melihat kembali dan memaknai momentum hijrah. Hijrah berarti pindah, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Bahkan Iqbal menganalogikan hidup adalah gerak, gerak berarti siap menghadapi berbagai tantangan, agar mampu mengembangkan daya dorong, daya suai, dan daya juang, guna meraih prestasi terbaik dalam hidup. Kata “ hijrah”  dalam al-Qur’an disebut dengan berbagai derivasinya sebanyak 27 kali. Penyebutan isim hanya 8 kali, sedangkan yang lebih banyak yaitu 19 kali adalah fi’il baik madhi, mudhari’ maupun amr. Disinilah hijrah dipahami sebagai adanya dinamika dalam hidup mendapatkan penguatan dan penekanannya.

          Jika kita telusuri dari aspek sejarah, hijrah mempunyai tiga hikmah besar, yang sampai kini masih tetap aktual. Pertama, peristiwa hijrah mengajarkan kita bahwa segala sesuatu butuh persiapan dan perencanaan yang matang. Maka ada ungkapan plan your work and work your plan. Dalam hijrah nabi melakukan persiapan yang matang, perencanaan yang akurat, dan pembagian tugas yang tepat. Kedua, para pendukung hijrah Nabi kebanyakan kaum pemuda. Hal ini menandakan bahwa peran kaum pemuda dalam peristiwa hijran sangatlah urgen, bahkan gerakan mereka melahirkan dinamisme keislaman. Ketiga, hijrah sangat mementingkan arti disiplin, tanpa kedisiplinan maka tidak lahir gerakan yang dinamis dan potensi yang maksimal. Maka, momentum hijrah pada esensinya adalah titik perubahan, reformasi dan transformasi diri yang sangat penting bagi masyarakat muslim. Karena pasalnya dalam hidup ini banyak sekali orang sukses dalam jangka pendek tetapi  gagal dalam jangka panjang.

          Secara terminologi, hijrah dapat dibagi menjadi 3 macam. Pertama, Hijrah Makaniyah, yaitu pindah dari tempat yang tidak aman ke tempat yang aman. Kedua, Hijrah Nafsiyah,yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual dari kekafiran kepada keimanan, dari kemaksiatan kepada kebajikan, dari pesimisme hidup kepada optimisme hidup, dari kebodohan kepada ilmu. Maka nama ‘hijriyah’ pun memberi sugesti untuk mendinamisir manusia mukmin agar tidak statis tetapi dinamis. Disinilah hijrah dipahami sebagai adanya dinamika dalam hidup, bahwa hakekat hidup adalah gerak, amal, dan perjuangan. Hidup sekali hiduplah yang berarti, berjasalah tapi jangan minta jasa. Ketiga, Hijrah Amaliyah, yaitu perpindahan perilaku dan perbuatan seperti perpindahan dari perilaku maksiat kepada perilaku akhlaqul Islam atau meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah kepada yang diperintah-Nya dan diridhai-Nya. Hijrah kedua dan ketiga ini tetap ada bahkan harus selalu dilakukan setiap pribadi muslim sampai hari akhir nanti. Nabi menginterprestasikan hijrah sebagai taubat sebagaimana dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW lainnya: “ Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa” (HR. Imam Ahmad). Maka bagi seorang muslim, hijrah kedua dan ketiga ini dapat dikatakan sebagai proses reformasi.

          Melihat fenomena keterpurukan bangsa ini dari berbagai aspek, momentum hijrah memberikan inspirasi tertentu untuk menggerakkan setiap muslim agar selalu berusaha merubah dan memperbaiki diri dalam hidupnya terutama yang berhubungan dengan etika, akhlaq, dan moral. Banyak isyarat dalam al-Qur’an maupun hadith yang menyatakan demikian : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka mengharap rahmat-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, “ Dan dari perilaku kotor, maka tinggalkanlah” “Hakekat hijrah adalah meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah”.

          Secara umum, hijrah mengandung spirit reformasi. Dan reformasi tersebut dibagi menjadi tiga fase yaitu reformasi individual (spiritual-moral), reformasi sosio-kultural, dan reformasi struktural. Peristiwa hijrah dapat dijadikan contoh yang sangat konkrit dan praktis. Selama kurang lebih 13 tahun Rasulullah SAW telah mengadakan reformasi individual dalam masyarakat Quraisy. Para sahabatnya yang tersentuh dakwah Rasulullah SAW segera mengadakan hijrah baik secara spiritual maupun moral. Mereka meninggalkan kekufuran dan kejahiliyahan lalu menggantinya dengan keimanan dan akhlaq Islamiyah. Reformasi individual-spiritul-moral ini mendorong terjadinya reformasi sosio-kultural, karena manusia yang telah melakukan reformasi individual mau tidak mau akan mereformasi tatanan kehidupan sosialnya.

          Dalam hadith Nabi “ wa al-hijratu man hājara mā nahāhu Allah ‘anhu” dan disebut hijrah adalah berpindah dari apa-apa yang dilarang Allah terhadap manusia. Atau sebagaimana disinyalir oleh Iqbal dalam masterpiece puisinya “ berhenti, tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas”. Maka noothing to loose, memaknai subtansi hijrah pada hakikatnya bercermin pada diri sendiri serta memaknai hidup dengan penuh motivasi dan idealisme.

          Momentum hijrah mampu memberi spirit yang menggedor kesadaran kita, guna mengisi kalbu dan mengasah reformasi sosial spiritual dalam jiwa kita, sehingga mampu melangkah dalam hidup ini menjadi lebih tegap, optimis, dinamis, dan produktif dari hari-hari sebelumnya. Dan tidak kalah penting hijrah dipandang sebagai starting point bagi bangsa kita untuk melakukan reformasi total untuk meluruskan arah dan membangun bangsa dari keterpurukan dan krisis multi dimensi ini. Karena hakekat hijrah merupakan transformasi dan reformasi sosial guna mampu melakukan yang terbaik dalam kehidupan personal maupun komunal dengan dinamika hidup secara optimal.

Wallahu A’lam Bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s