Dimana Kedudukan Aqidah Tauhid Seorang Muslim??

Tulisan ini saya kutip dari hasil karya Dr. Daud Rasyid, MA, dimana menarik perhatian saya dalam membaca peta pemikirannya yang kompleks terhadap dimensi-dimensi Islam. Ada hal yang menarik yang mungkin sudah mulai banyak luntur dari beberapa karakter Muslim dewasa ini, karena tergerus dengan berbagai macam misi-misi globalisasi dan sekulerisasi yang tak pernah surut. Hal menarik tersebut adalah “Aqidah Tauhid”, yang merupakan konsep kehidupan, landasan, bahkan sebagai acuan dalam beragama Islam. Landasan inilah yang seharusnya mendasari sikap, gerak, dan pola pikir setiap Muslim. Wawasan pemahaman seseorang terhadap tauhid, serta komitmennya terhadap aqidah ini harusnya terimplementasi dalam bentuk perilaku, moralitas, visi hidup, dan pola pikirnya dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian semakin dangkal aqidah tauhid seseorang, semakin rendah pula kadar akhlaq, watak kepribadian, serta kesiapannya dalam menerima konsep Islam sebagai way of life. Dan sebaliknya, bilamana aqidah seseorang telah kokoh dan mapan, maka itu jelas akan terlihat dalam operasionalnya.

Aplikasi aqidah akan terlihat bila kita kembali kepada sirah (perjalanan hidup) para Sahabat Rasulullah SAW. Misalnya saja, Bilal ibn Rabah tahan menanggung siksaan yang cukup berat dari kaum musyrikkin Makkah pada masanya demi mempertahankan prinsipnya bahwa Allah itu Satu. Ia ditindih dengan batu gurun yang besar dan terjal diatas perutnya, namun tak terlintas di benak sahabat yang berkulit hitam ini untuk merubah keyakinannya. Inilah contoh kemantapan aqidah kepada Allah SWT.

Contoh lain dapat dilihat pada periode Madinah, ketika turunnya ayat al-Qur’an surat al-Maidah 90

Ayat ini melarang minuman keras (miras) secara definitif, Rasulullah SAW tidak memerlukan perangkat-perangkat seperti “Departemen Penerangan” untuk mengumumkan pelarangan miras. Juga tidak membutuhkan polisi untuk melaksanakan peraturan yang baru, tidak memerlukan “Badan Pengadilan” untuk menghukum orang yang tidak mengindahkan peraturan baru tersebut. Ketika itu, tidak lebih dari 1 atau 2 orang petugas saja yang ronda untuk memberitahukan kepada kaum kuslimin bahwa khamar telah diharamkan Allah SWT. Sejak isu baru tersebut, tak seorang pun mempertanyakan kebenaran berita itu, dari mana sumbernya, perlukah diselidiki kebenarannya?. Pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah terjadi. Bahkan orang-orang yang sedang asyik ngobrol dan memegang cangkir berisi khamar, spontan melemparkan gelas itu, tatkala mendengar informasi baru itu datangnya dari Rasulullah SAW.

Dan bagi yang sudah sempat meneguknya sampai di kerongkongan, langsung memuntahkannya seketika itu juhga, sambil menegaskan sikapnya, “Intahayna ya Rabbana, intahayna!” (Kami telah berhenti sampai disini, wahai Tuhan kami).

Mari kita renungkan sejenak, faktor apa yang mendasari sikap spontanitas mereka sehebat itu, kalau bukan aqidah yang kuat dan mengakar dalam hati sanubari mereka ketika itu. Aqidah yang melahirkan sikap kepatuhan yang tinggi yang biasa dikenal dengan semangat “sami’na wa atha’na” (begitu kami dengar langsung kami patuhi), dan membentuk komitmen yang amat pekat.

Wallahu A’lam Bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s