A GREAT POWER OF FAMILY

Maraknya praktek korupsi, penganiayaan, konflik sosial belakangan ini telah menjadi masalah besar yang menakutkan dan mengkhawatirkan masa depan bangsa Indonesia. Bahkan tercatat, Indonesia menduduki peringkat keenam negara terkorup dari 159 negara di dunia, dan bisa dibilang negara kita ini krisis karakter bahkan gagal membina karakter bangsa. Setelah adanya beberapa upaya pemerintah dalam pemberantasan hal-hal ketimpangan sosial ini, dunia pendidikan kini nampaknya harus bertanggung jawab akan pentingnya penanaman kesadaran melawan perilaku-perilaku tersebut. Seperti yang pernah disampaikan oleh Prof. Abuddin Nata dalam seminar Nasional mengenai Revitalisasi Pendidikan Karakter, solusi yang harus dimatangkan dan dilaksanakan oleh pihak pendidikan yaitu pembangunan moral dan mental yang bersih dan jujur, sehingga masalah-masalah sosial tersebut dapat relatif ditekan dan selanjutnya dihilangkan di Indonesia.

Mengatasi krisis karakter, maka solusinya adalah karakter bangsa ini yang harus di didik. Namun, hal tersebut juga tidak mudah dilakukan pasalnya usaha yang dilakukan pihak pendidikan baik keluarga, sekolah, dan masyarakat guna mengatasi krisis karakter ini nampak seperti tidak berdaya lagi dan telah kehilangan kekuatannya. Demikian pula peran agama sebagai penyempurna akhlaq dan penyembuh jiwa nampak semakin tidak berdaya. Melihat kondisi ini, tidak seharusnya kita putus asa dan berhenti berbuat untuk mengusahakan berbagai solusi terhadap masa depan bangsa ini.

Menurut pakar pendidikan Prof. Abuddin Nata dan Prof. Suyata, faktor-faktor yang menyebabkan krisis pendidikan karakter bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang lemah antara lain: Pertama, dunia pendidikan telah melupakan tujuan utamanya yaitu mengembangkan pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang dan stimultan, dalam arti dunia pendidikan kita hanya memberikan porsi besar untuk pengetahuan kemudian melupakan pengembangan sikap dan perilaku dalam pembelajarannya. Kedua, sistem pendidikan di Indonesia hanya mengembangkan potensi dimensi akademik siswa saja tanpa melihat potensi-potensi lainnya, sehingga hal ini menimbulkan keadaan stress dan mental block di kalangan pelajar. Ketiga, dunia pendidikan di Indonesia saat ini terjebak pada menyiapkan manusia “instan” yang sekali pakai dan tidak bertahan lama, hal ini sangat terasa ketika menjelang UNAS. Keempat, praktek pendidikan yang ada saat ini lebih dikuasai oleh ideologi ekonomi kapitalis dan liberalis yang menganggap pendidikan sebagai komoditas untuk diperjual-belikan bahkan parahnya menempatkan guru sebagai fasilisator/ pelayan yang harus melayani keinginan siswa. Kelima, pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia saat ini mengalami kegagalan, dan berdampak pada kerusakan moral dan karakter bangsa.

Melihat keterpurukan pelaksanaan pendidikan karakter lembaga-lembaga pendidikan, seyogyanya kita menggali solusi untuk bertahan menghadapi kondisi ini. Maka penerapan konsep penguatan kembali peran keluarga “The Power of Family” menjadi andalan solusi yang dapat kita pilih. Tidak bisa kita pungkiri bahwa peran keluarga merupakan pondasi yang paling kuat dalam pendidikan karakter seseorang. Keluarga memiliki tugas yang prinsipil dalam pembentukan dan perkembangan anak baik secara lahiriah maupun batiniah. Maka perlu diketahui bahwa apa yang dilihat, didengar, dirasakan itu merupakan pendidikan, sehingga seyogyanya dalam keluarga segala sesuatu dari yang mendasar sampai yang umum harus menjadi kebiasaan dan dibiasakan. Namun, adakalanya suatu pembiasaan itu harus dengan paksaan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Contohnya, pembiasaan sholat fardhu kepada anak, hal tersebut harus dibiasakan sejak dini. Jangan membiasakan anak sholat ketika mereka sudah berumur 14 tahun yang terjadi mereka tidak akan sholat selamanya, tapi biasakan anak sholat sejak mereka berumur 7 tahun atau sebelumnya. Sehingga sholat ini akan menjadi kebiasaan dan kesadaran mereka bahkan mendarah daging pada diri anak.

Konsep “The Power of Family” yang ditawarkan pakar pendidikan ini, dapat diperkuat dengan berbagai cara yaitu: pertama, memahami kembali peran fungsi dan tanggung jawab sebagai orang tua, dan utamanya orang tua akan diminta pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan nanti. Kedua, mewujudkan keluarga yang sakinah sehingga anak betah di rumah dan akrab dengan keluarga baik secara lahiriah maupun batiniah. Ketiga, melakukan pengawasan yang efektif terhadap segala perilaku anak, terutama saat diluar rumah. Keempat, membudayakan dan menjadi teladan dalam praktek ajaran agama seperti sholat, puasa, baca al-Qur’an, dll. Kelima, membudayakan sikap jujur, adil, tanggung jawab, amanah, bijaksana dan keteladanan pada anak. Terakhir, mencegah anak dari tayangan media elektonik maupun cetak yang merusak karakter anak.

Apabila orang tua telah memerankan fungsinya dengan maksimal sebagai pendidik keluarga, maka tidaklah mustahil akan terbentuk generasi yang memiliki budi pekerti dan berakhlaqul karimah, bahkan apa-apa yang telah ditanamkan oleh orang tua tersebut akan mendarah daging pada pribadi anak. Kepribadian anak yang telah tercetak dengan baik dalam keluarga dapat dikembangkan dalam lembaga-lembaga pendidikan berikutnya. Dan diharapkan mampu menghasilkan generasi Islami yang lebih baik dan berkarakter tangguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s