ILMU JADAL AL-QUR’AN

Al-Qur`ân – kata Syekh Muhammad ‘Abduh – mengandung berita bangsa-bangsa silam yang dapat dijadikan contoh perbandingan bagi umat sekarang dan yang akan datang, ia memuat berita pilihan yang dipastikan kebenarannya. al-Qur`ân menceritakan hikayat para Nabi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara mereka dengan umatnya. Ia juga mensyari’atkan kepada manusia hukum-hukum yang sangat cocok dengan kemaslahatan kehidupan mereka. Sejalan dengan keyakinan ‘Abduh itu, Nashr menegaskan pula bahwa :
Al-Qur`ân berisi petunjuk bagi manusia agar ia mampu memenuhi janjinya kepada Tuhan. Karenanya al-Qur`ân menjadi pusat kehidupan Islam. Al-Qur`ân adalah dunia di mana seorang muslim hidup. Ketika ia dilahirkan, di telinganya dibisikkan syahadat yang terdapat dalam al-Qur`ân. Ia mempelajari al-Qur`ân sejak ia mulai bisa berbicara. Ia mengulangnya setiap hari dalam shalat. Ia dinikahkan melalui pembacaan al-Qur`ân. Dan ketika ia mati dibacakan al-Qur`ân kepadanya. Al-Qur`ân adalah serat yang membentuk tenunan kehidupannya, ayat-ayat al-Qur`ân adalah benang yang menjadi rajutan jiwanya.

Posisi al-Qur’an sebagai kitab terakhir yang diturunkan Tuhan kepada manusia mengharuskannya untuk selalu relevan dan mampu menembus ruang dan waktu (salih li kulli zaman wa al-makan). Fenomena jadal al-Qur’an adalah salah satu bentuk nyata relevansi al-Qur’an, di mana ia selalu berdialog dengan lokalitas dan temporalitas para pembacanya.  Perkembangan studi al-Qur’an kontemporer, khususnya kajian jadal al-Qur’an, justru berjalan kontra-produktif dengan tujuan penurunan al-Qur’an itu sendiri. Para pengkajinya cenderung memahami fenomena jadal menggunakan pendekatan moral dan hukum dengan status halal-haram dan tata cara berdebat yang baik sebagai fokus kajiannya. Ironisnya, sebagian pihak malah menelan mentah-mentah fenomena tersebut sehingga menghadirkan pemahaman yang meresahkan. Akhirnya al-Qur’an hanya menjadi standard penentuan hukum dan kehilangan keluwesannya untuk berdialog dengan siapapun yang membacanya.

Berbagai upaya dalam membantah kebenaran al-Qur`ân, dilakukan manusia sejak masa turunnya, namun selalu kandas. Sebab bantahan al-Qur`ân selalu lebih kuat. Kekuatan bantahan al-Qur`ân ini, antara lain adalah dalam kedudukan uslub bahasanya yang juga bermuatan mu’jizat. Menurut al Zarqani bahwa di antara kemukjizatan al-Qur`ân terdapat pada “kefasihan lafadznya serta keindahan uslubnya yang tidak bisa ditandingi.” Pembicaraan di sekitar bantah membantah dalam al-Qur`ân itulah yang kemudian dalam disiplin ‘Ulum al-Qur`ân dikenal dengan istilah Jadal al-Qur`ân. Tulisan ini, akan mencoba melihat permasalahan di sekitar Jadal al-Qur`ân tersebut, meliputi: pengertian Jadal, macam dan topiknya, tujuan dan metodenya.

A.      Definisi Jadal al-Qur’ān

Allah menyatakandalam al-Qur’ān bahwa jadal (berdebat) merupakan salah satu tabiat manusia. Seperti firman-Nya dalam Al-Qur’ān, (QS, al-Kahfi:54):

وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْئٍ جَدَالاً

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatannya

Secara etimologi, Jadal atau Jidal dalam bahasa Arab dapat dipahami sebagai ”perbantahan dalam suatu permusuhan yang sengit dan berusaha memenangkannya.”

Sedangkan secara terminologi, jadal  adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perdebatan yang sengit (Hasbi, 2009:121).

Dalam kajian “‘Ulum al-Qur’an” Jadal al-Qur`ân merupakan pembuktian-pembuktian serta pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada orang-orang kafir dan mematahkan argumentasi para penentang dengan seluruh tujuan dan maksud mereka, sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia.

Daripada itu Rasulullah SAW diperintahkan untuk berdebat dengan kaum musyrikin dengan cara yang baik sehingga mampu meredakan keberingasan mereka. Disamping itu Allah SWT memperbolehkan manusia untuk bermunāzarah (diskusi) dengan ahlu al-kitab namun dengan cara yang baik. Sebagimana Munāzarah ini bertujuan menampakkan hak kebenaran dan menegakkan hujjah atas validitas al-Qur’ān. Maka dengan ini kita mengetahui esensi metode jadal al-Qur’ān dalam memberikan petunjuk kepada orang kafirdan mengalahkan para penentang al-Qur’ān

B.       Tujuan dan manfaat Jadal Al-Qur’an

Jadal al-Qur`ân memiliki berbagai tujuan, yang dapat ditangkap dari ayat-ayat al-Qur`ân yang mengandung atau yang bernuansa Jadal. Secara umum, kegunaan Jadal A-Qur’an bagi kita umat muslim ialah untuk memperkuat iman kita karena dengan adanya perdebatan-perdebatan dalam Al-Qur’an mampu membuka cakrawala kita tentang kebenaran Allah, kitab Allah dan para RosulNya. Serta menambah pengetahuan kita bahwa Allah dan kebenaran Al-Qur’an tidak terbantahkan.

Sedangkan tujuannya secara khusus di antaranya adalah :

  1. Sebagai jawaban atau untuk mengungkapkan kehendak Allah dalam rangka penetapan dan pembenaran aqidah dan qaidah syari’ah dari persoalan-persoalan yang dibawa dan dihadapi para Rasul, Nabi dan orang-orang shaleh.
  2. Sebagai bukti-bukti dan dalil-dalil yang dapat mematahkan dakwaan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kalangan umat manusia, sehingga menjadi jelas jalan dan petunjuk ke arah yang benar.
  3. Sebagai layanan dialog bagi kalangan yang memang benar-benar ingin tahu, ingin mengkaji sesuatu persoalan secara nalar yang rasional , atau melalui ibarat maupun melalui do’a.
  4. Untuk menangkis dan melemahkan argumentasi-argumentasi orang kafir yang sering mengajukan pertanyaan atau permasalahan dengan jalan menyembunyikan kebenaran.
  1. C.    Tema (Maudlu’) dalam Jadal Al-Qur’an

Adapun mengenai terma (maudlu’) dalam Jadal al-Qur`ân, cukup banyak tersebar dalam berbagai surah dan ayat al-Qur`ân. Al Almaa’iy mengkategorikannya ke dalam enam kelompok terma yakni :

1. Jadal dalam penetapan wujud Allah (Q.,s. al Jaatsiyah/45 : 24-28)

2. Jadal tentang penetapan Keesaan Allah (Q.,s. al Anbiya’/21 : 22)

3. Jadal tentang Penetapan Risalah (Q.,s. Nuh/71 : 1-3)

4. Jadal tentang Kebangkitan dan Pembalasan (Q.,s. al Mu’minun/23 : 81-83 dan Q.,s. Qaaf/50 : 12-15)

5. Jadal tentang Tasyri’at (Q.,s. al Nahl/16 : 36 & Q.,s. al Anbiya’/21 : 25), 6. Jadal tentang aneka tema lainnya, seperti:

a Jadal Bani Adam (Q.,s. al Maidah/5 : 27-31),

b. Jadal Ibrahim a.s. tentang kaum Luth (Q.,s. Hud/11 : 74-76).

c. Jadal antara Musa dan Hidlir a.s (Q.,s. alKahfi/18 : 60-72),

d. Jadal antar orang shabar yang miskin dan orang kafir yang kaya (Q.,s. al Kahfi/18 : 32-43)

e. Jadal Keluarga Fir’aun yang beiman dengan kaumnya (Q.,s. al Mu’minun/23 : 27-40)

f. Jadal Yahudi dan Nasrani tentang Ibrahim a.s. (QS. Ali Imran/3 : 65.

g. Jadal Munfiqin dengan Mu’minin (Q.,s. al Baqarah/2 : 11-14).

Di antara sekian maudlu’ Jadal dalam al-Qur`ân menurut analisis Al Almaa’iy terma yang pertama dan kedua yakni tentang Wujud dan Keesaan Allah yang paling banyak mendapat sorotan. Dengan menggunakan kerangka jenis/macam Jadal yang dikemukakan terdahulu, bila dicermati secara baik, tentunya dapat diduga dari contoh-contoh tersebut di atas, mana yang tergolong Jadal yang mahmud dan mana yang mazdmum.

D.      Metode Jadal yang ditempuh al-Qur’ān

Al-Qur’ān tidak menempuh metode yang dipegang teguh para ahli kalam yang memerlukan adanya muqaddimah (premis) dan nātijah (konklusi) seperti dengan cara beristidlāl dengan sesuatu yang bersifat kullīy (universal) atas yang juz’i (partial) atau sebaliknya. Akan tetapi al-Qur’ān banyak mengemukakan dalil dan bukti yang kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli sehingga mampu mematahkan setiap kerancuan dengan perlawanan dalam tata bahasa yang konkrit, indah, dan tidak memerlukan pemerasan akal (al-Qattan, 1998:427).

Seperti yang dikemukakan oleh Imam Najmuddīn al-Sūfi dan juga al-Zarkāshi dalam kitabnya al-Burhānī ‘Ulūmi al-Qur’ān bahwa al-Qur’ān mencakup segala macam keterangan dalil dan bukti dimana tidak ada satupun dalil atau bukti mengenai sesuatu baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah SWT mengungkapkannya sejalan dengan kebiasaan bangsa Arab dan bukan dengan kebiasaan berpikir ahli kalam (mutakallimūn). Hal tersebut dikarenakan 2 sebab yaitu:

  1. Ayat Al-Qur’ān (QS, Ibrahim:4), yang menyerukan bahwa Rasul diutus sesuai dengan bahasa kaumnya, yaitu:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ

Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya.”

Orang yang cenderung memakai argumentasi yang pelik dan rumit justru sebenarnya ia tdak mampu menegakkan hujjah dengan kalam agung. Karena ia mengungkapkan sesuatu dengan cara yang kabur dan penuh teka-teki bahkan tidak jelas untuk dipahami banyak orang (Jalaluddin:80).

Namun daripada itu Allah SWT juga memaparkan seruan-Nya kepada makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang agung meliputi juga bentuk yang paling pelik dengan tujuan agar orang awam memahami dari yang agung tersebut sehingga memuaskan mereka menerima hujjah-hujjah dan dari celah keagungannya kalangan ahli pun mampu memahami sesuai dengan tingkat pemahaman sastrawan.

Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih banyak tentu lebih banyak pula pengetahuan tentang ilmu al-Qur’ān. Dengan itu Allah SWT selalu menyebutkan hujjah ayat-ayatNya dengan hubungan kalimat “ mereka yang berakal” dan “ mereka yang berpikir”, dengan tujuan mengingatkan bahwa setiap potensi-potensi tersebut dapat digunakan untuk memahami hakikat hujjah-Nya (Al-Qattan, 1998:429). Seperti dalam firman Allah SWT (QS, Al-Ra’ad:4) :

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَأَيَاتٍ لِقَوْمِ يَعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.”

Dan perlu kita ketahui bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat al-Qur’ān memerlukan ketajaman pemikiran dan penggunaan bukti-bukti rasional. Contoh seperti firman Allah (QS, al-Anbiya’:22) :

لَوْكَانَ فِيْهِمَاآلِهَةٌ إِلاَّ اللهُ لَفَسَدَتَا

Seandainya ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah tentulah keduanya itu telah hancur dan binasa.”

Ayat diatas mengisyaratkan pembuktian tentang pencipta alam itu satu, maka dari itu ayat ini bisa terbukti secara rasional. Sebab, jika alam ini mempunyai 2 pencipta maka akan terjadi 3 kemungkinan yaitu :

  1. Pengendalian dan pengaturan alam tidak akan berjalan secara teratur karena terjadi kontradiksi yaitu pemilahan kerja dari keduanya
  2. Keinginan mereka tidak terlaksana maka menyebabkan bukti kelemahan mereka
  3. Bila keinginan salah satunya tidak terlaksana maka menyebabkan bukti kelemahannya, padahal Tuhan itu tidak mungkin lemah.

Adapun secara khusus, metode Jadal Al-Qur’an adalah:

  1. Membungkam lawan bicara dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari. Seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya Khalik, misalnya ayat (QS, al-Nur: 35-36)

أَمْ خُلِقُوْامِنْ غَيْرِشَيْئٍ أَمْ هُمُ الخَالِقُوْنَ﴿ أَمْ خَلَقُوْا السَّمٰوٰاتِ وَالأَرْضَۚ بَلْ لّاَيُوْقِنُوْنَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)”.

  1. Mengambil dalil dengan mabda’ (asal mula kejadian) untuk menetapkan ma’ad (hari kebangkitan). Seperti firman Allah SWT (QS, al-Thariq:5-8):

خُلِقَ مِنْ ماَءٍ دَافِقٍ﴿ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنَ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ﴿ إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ 

            “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air mani yang terpancar. Yang keluar diantara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya ( hidup sesudah mati).”

Termasuk beristidlāl dengan kehidupan bumi sesudah matinya untuk menetapkan kehidupan sesudah mati untuk dihisab, seperti firman Allah SWT (QS, al-Anbiya’:104):

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيْدُهُ

                    “ Sebagaimana kami telah memulai penciptaan yang pertama.”

  1. Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan kebenaran kebalikannya, seperti bantahan terhadap pendirian orang Yahudi, sebagaimana yang diceritakan Allah SWT dalam firman-Nya (QS, al-An’am:91):

قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الكِتَابَ الَّذِى جَاءَ بِهِ مُوْسَى نُوْرًا وَهُدًى لِلنّاَسِ ۖ  تَجْعَلُوْنَهُ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۖ وَعَلِمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْا أَنْتُمْ وَلاَءَابَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللهُ ۖ  ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ 

  1. Menghimpun dan memerinci ( al-sabr wa al-taqsim) yakni menghimpun beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bukanlah ‘illah (alasan hukum) seperti firman Allah SWT (QS, al-An’am:143) :

ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ ۖ مِنَ الضَّأْنِ اثْنَيْنِ وَ مِنَ المَعْزِاثْنَيْنِ ۗ قُلْ ءَالذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمْ الأُنْثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ اللأُنْثَيَيْنِ ۖ نَبِّئُوْنِى بِعِلْمٍ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

Delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. Katakanlah: apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?. Terangkanlah padaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Ayat ini menginpretasikan bahwa sesungguhnya ketika orang-orang kafir mengharamkan hewan jantan dan kadang-kadang betinanya, Allah SWT membantahnya dengan cara sabru dan taqsim dimana sesungguhnya segala penciptaan adalah milik Allah, Dia menciptakan dari segala yang berpasangan baik jantan maupun betina, maka dengan alasan apa mereka mengharamkannya???

  1. Membungkam lawan dan mematahkan hujjahnya dengan menjelaskan bahwa pendapat yang mereka kemukakan adalah tidak masuk akal dan tidak dapat diakui. Misalnya dengan firman Allah SWT (QS, al-An’am:101):

بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ ۖ أَنَّى يَكُوْنُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ  وَخَلَقَ كُلَّ شَيْئٍ ۖ  وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمَ

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Mengetahui segala sesuatu.”

Dapat kita ketahui dalam ayat diatas telah ditegaskan bahwa Allah tidak mempunyai anak seperti apa yang mereka (orang musyrik) kemukakan, karena proses kelahiran anak tidak mungkin terjadi dari sesuatu yang satu. Dengan kemahatauanNya akan segala sesuatu maka mustahil jika Dia sama dengan benda-benda fisik alami yang melahirkan sesuatu. Dengan demikian maka tidak benar menisbahkan Anak kepadaNya

Wallahua’lam Bishowāb

DAFTAR PUSTAKA

Al-Suyuthi, Jalaluddin.Samudera ‘Ulūmu al-Qur’ān. Surabaya: Bina Ilmu Offset.2008

Al-Qattan, Manna’ Khalil.Terjemah Mabahis Fi Ulumil Quran. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2006

——–Studi Ilmu-ilmu al-Qur’ān.Jakarta :PT.Pustaka Litera Antar Nusa. 1998

Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Ilmu-Ilmu al-Qur’an. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Edisi ketiga. 2009

Al-Qur’an danTerjemahan.

http://luthfi-damanhuri.blogspot.com/2009/05/amsal-aqsam-jadal-dalam-al-quran.html diakses 18 November 2011

http://Moh-Jainulanwar.blogspot.com/jadal-a-qur’an.html.diakses pada 20 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s